Rasanya Dipijat Brock Lesnar

October 22, 2017


Bisa dibilang, saya adalah orang yang anti banget sama obat. Buktinya, kalo lagi mabuk di perjalanan, saya minum antimo. Bukan-bukan, saya anti banget sama obat-obat yang keras, maksudnya obat-obat yang berbentuk kapsul, tablet, atau setengah lingkaran. Mungkin itu adalah sugesti dari mamak saya beberapa tahun lalu setelah mendengar percakapannya dengan tetangga sebelah.


“Kalo saya itu ya, paling anti sama yang namanya obat-obat, saya lebih milih yang alami-alami aja, biar ndak ada efek sampingnya”

Ibu-ibu tetangga masih khusyuk mendengarkan.

“Kalo saya sakit perut, saya ndak pernah minum Entrostop atau Dianggadapet” ujar emak dengan logat sasak yang kental.

“Terus?” tanya tetangga sebelah penasaran.

“Saya kantongin batu” katanya bangga sambil merogoh saku, menggambil batu yang sedang dia kantongi.

Saya bisa minum obat, tapi dalam keadaan terpaksa, misalkan dalam keadaan pusing banget atau mencret banget. Kalo nggak kebangetan, saya lebih milih obat-obat alami, kayak antangin, , balsem dan teh pucuk.

Lah itukan nggak alami, kan ada bahan kimianya juga?!

Ya paling nggak iklannya di TV, katanya pakai bahan alami, gitu.

Selain menggemari obat-obat dalam bentuk sachet, saya juga paling demen sama pengobatan tradisional Indonesia, PIJAT. Kegiatan rutin kalo pulang kampung selain kumpul sama teman-teman adalah pijat. Tempat pijat favorit saya adalah di salah satu paman yang kemampuan pijatnya sudah turun-temurun sejak Portugis masuk ke Indoneisa. Selain bayarnya sangat murah, cuma dengan sebungkus rokok, di sana saya juga bisa teriak sepuasnya kalo kesakitan.

Belakangan ini, saya sering banget kena penyakit. Mulai dari pusing, batuk, flu, sampe malarindu. (Anj**g, ini humor tahun berapaan sih?!) Semenjak pulang KKN, penyakit-penyakit itu udah kayak langganan. Sembuh beberapa minggu, nanti kena lagi beberapa hari.

Karena pantangan nggak mau minum obat ‘nggak alami’ itu, saya memutuskan untuk pergi pijat yang ada di salah satu pusat perbelanjaan di Malang. Sepulang dari acara Malang Sejuta Buku bareng Oca, kami langsung cabut ke tempat pijatnya.

Sampai di depan tempat pijet, saya nggak tau harus ke mana karena ada dua pintu. Pintu kiri dan pintu kanan. Setelah menganalisis keadaan, kami jalan ke pintu kanan karena di sana ada wujud beberapa manusia, yang nggak terdapat di pintu sebelah kiri.

“Mas pijet” kata Oca. Dengan suara MCnya.

“Yang pijet siapa?” kata mas-mas tukang pijet, pakai topi kebalik tulisannya LEX SUGAR.

Oca menunjuk ke arah saya, kemudian Oca nanya lagi “Kalo pijet cewek di mana ya mas?”

“Oh di sebelah sana mbak” kata masnya sambil menunjuk ke arah kanan.

Saya kecewa. Bukan kecewa karena pisah dengan Oca, melainkan harus menerima kenyataan kalo yang mijat nantinya adalah seorang om-om. Padahal dari tempat parkir tadi, saya sudah membayangkan enaknya di pijat oleh mbak-mbak dengan tangan halus, rambutnya di kuncir kuda dan menggunakan kaca mata.


Saya melihat pelan-pelan tempat pijat itu. Ada tiga bilik yang ditutup tirai warna biru semua, kalo saya pilih nomer satu, takutnya zonk. Oke, ini bukan acara yang di ANTV itu. Sedangkan para pegawainya menggunakan baju hijau. Saya menduga owner tempat pijat ini pecinta puisi karena menggabungkan langit biru dan dedaunan hijau yang terhempas angin.

Setelah puas melihat, saya kemudian diminta masuk ke bilik yang ada di tengah sama seorang pegawai yang kulitnya agak hitam, perawakannya kekar banget. Mirip pemain Smackdown. Otot-otot tangannya kayak memaksa keluar dari balik kulitnya. Dari awal masuk, saya sudah memutuskan untuk nggak mau menatap salah satu pegawainya, takut. Nanti malah ditelanjangi secara paksa.

Sebut saja mas-mas berotot kekar itu Brock Lesnar, biar gampang.

“Mas, lepas dulu pakaiannya, ini nanti dipake sarungnya ” ternyata suara mas Brock Lesnar itu berat. Seberat hidupnya. Suaranya, bikin saya tambah takut.

Saya melepas pakaian dengan perasaan nggak enak. Pelan-pelan saya buka dari sepatu, sampai ke kemeja. Untung aja hari itu saya pakai kolor, jadi nggak merasa telanjang-telanjang banget.

Setelah melepas pakaian, saya memakai sarung tadi dan langsung tengkurap di atas kasur. Empuk juga kasurnya. Pikir saya. Nggak lama, Brock Lesnar masuk ke bilik yang saya tiduri. deg-degan.

Brock Lesnar kemudian mulai memijat dari tumit sebelah kiri, kemudian naik ke betis, sampai ke paha. Habis itu gantian ke tumit kanan, naik ke betis terus ke paha. Di tahap awal itu saya hanya teriak-teriak kecil sama pijatan mas Brock Lesnar. Walaupun agak keras, tapi enak.

Sambil mijet-mijet paha, Brock Lesnar ngajakin saya ngobrol.

“Ini masnya udah lama nggak pijet ya?”

“Iya mas, kok tau?” saya berharap digombalin

“Iya mas, kaku semua badannya”

Saya salut banget sama Brock Lesnar, bisa tau saya nggak pernah pijat selama di Malang. Hebat juga si Brock pikir saya. Tapi, setelah ini, keanehan dimulai.

Setelah  memijat paha. Brock Lesnar kemudian membetulkan posisi celana saya, tanpa aba-aba, tiba-tiba tangannya masuk ke pantat *. PANTAT ANJIR! Saya kaget tapi santai aja, karena di awal, saya udah bilang pijetnya full body. Selama saya pijet, belum pernah setotalitas itu, sampai otot-otot pantat juga dipijat.

Otot-otot pantat saya sudah kembali ke posisi normal, kemudian yang jadi santapan tangan Brock jatuh ke punggung. Mendengar suara-suara otot yang kaku menjadi salah satu nada terindah yang saya dengar waktu itu, selain suara desahan bapak-bapak yang ada di bilik sebelah.

Habis itu saya langsung diminta balik badan sama Brock Lesnar, dia mulai memijat lagi dari bawah, jari-jari kaki saya dipijat, naik lagi ke betis, kemudian ke paha. Di detik-detik ini, saya deg-degan lagi. Takutnya bagian terlarang saya yang dipijat.

Dari paha, saya mulai memperhatikan tangan Brock Lesnar dengan cara mengintip, saya pura-pura merem aja kalo sampai dia memijat adik kecil, saya akan teriak sekencang-kencangnya sampai Mallnya pindah.

Untungnya setelah dari paha, Brock Lesnar langsung meminta saya untuk duduk. saya mengucap syukur 33x. Brock Lesnar ternyata NORMAL!

Mulai dari situ sudah nggak ada yang bikin saya deg-deg ser lagi. Pundak saya dipijat dengan nikmat. Yang paling enak adalah waktu dipijat bagian kepala, apalagi waktu itu saya lagi kena sakit kepala, jadi nikmatnya dobel.

Pas saya tanya Oca saat keluar dari Mall, dia juga dipijatnya se-totalitas yang saya alami, tapi kalo saya pijet lagi, saya nggak mau sampe pantat, agak gimana gitu. Masak saya dapet tangan-tangan bekas ribuan pantat bapak-bapak lain. Euh!

*Itu bukan pelecehan seksual teman-teman, pas saya tanya, ternyata itu prosedur pijetnya. Itu bisa aja kamu request, atau milih bagian mana yang nggak dipijat. Tapi waktu itu seluruh badan rasanya mau hancur, jadi yaudah biar cepat sehat dan sembuh!


Punya pengalaman unik ketika dipijat? Share di kolom komentar!

You Might Also Like

4 comments

  1. Wkwkwk kocak mas, kirain kenapa2 pula.. Total banget itu tukang pijetnya

    ReplyDelete
  2. Gue pernah juga tuh dipinjet sampai pantat-pantat. Sama ibu-ibu usia 40-an akhir atau 50-an awal. Terus setelah baca ini, baru inget udah lama nggak pijet. Terakhir pijet awal tahun. Itu pun karena jatuh dari motor. Eh, itu mah urut benerin urat, ya? Bukan pijet? :(

    ReplyDelete
  3. Gue juga pernah dipijet mas, tapi rasanya kaya dismackdown sama agung hercules, dipiting babe cabita. Habis dipijet badan gue bukannya enak malahan enek plus sakit. Dan kapok enggak pengen dipijet sama si amang-amang itu lagi. Hahaha

    ReplyDelete

Komentar di sini aja, biar bisa blogwalking