Komunikasian: Ditolak Himpunan

March 03, 2018

Semasa kecil, saya ini cupu banget. Buktinya adalah saat kelas 6 SD, saya diminta untuk membaca doa ketika upacara hari senin, Ketika giliran saya tiba, kaki saya gemetar hebat dan diketawai oleh seluruh siswa. Begitu upacara selesai, kepala sekolah menghampiri saya “minggu depan kamu di barisan aja, ya” katanya sambil memegang bahu. Mendengar perintahnya, saya merasa sangat senang.

Namun, setelah tumbuh dewasa saya baru sadar; ternyata, itu harapan beliau agar saya jangan pernah baca doa lagi di upacara-upacara berikutnya.

Selain itu, ketika saya masih MTs, ada kegiatan rutin yang dinamakan Muhadaroh. Itu adalah kegiatan yang mewajibkan semua siswa untuk ceramah di depan seluruh siswa setiap pagi. Selama tiga tahun sekolah, pasti semua siswa pernah kebagian ceramah paling nggak satu kali.

Karena saking cupunya, ketika giliran tiba, saya malah lupa materi yang sudah saya hapalkan selama seminggu. Bersamaan dengan itu, kejadian ketika saya SD terulang lagi. Kaki dan tangan saya gemetar hebat. Berkat kejadian itu, saya dipanggil Giring Nidji karena saat pidato, teman-teman saya bilang gemetarnya badan saya  mirip waktu Giring lagi nyanyi.

Sewaktu kelas satu SMA, kecupuan saya masih bertahan. Tapi saya pengin banget bisa bergaul dan bisa berkomunikasi di depan orang banyak. Setelah menyampaikan keinginan saya ke salah satu teman yang menjadi anggota OSIS, akhirnya saya bisa bergabung berkat dibantu orang dalam. Oke. Jangan dituru.

Berkat itu, kemampuan saya untuk tampil di depan umum lumayan meningkat. Paling nggak, tremor saya berangsur-angsur sembuh. Apalagi setelah bergabung dengan OSIS, saya bisa dikenal oleh adik kelas yang cantik-cantik.

Saat masuk jurusan Ilmu Komunikasi, saya bertekat untuk melanjutkan apa yang sudah saya dapatkan di OSIS dengan berencana ikut himpunan mahasiswa jurusan. Apalagi melihat kakak tingkat yang ikut HMJ memiliki karisma yang menawan, saya bertambah yakin untuk ikut.

Saat pengumuman pendaftaran menjadi anggota HMJ dibuka, saya langsung menghubungi nomor telepon yang tertera di poster, sekalian menyiapkan beberapa berkas yang diperlukan agar bisa lolos dan bergabung. Kali ini saya harus mempersiapkan semuanya sendiri, saya nggak punya orang dalam.

Berbekal pengalaman pernah bergabung dengan OSIS, harapan saya diterima menjadi anggota HMJ lumayan besar. Besoknya, saya dapat pesan singkat, saya diminta hadir minggu depan untuk tes wawancara.

Minggu depannya, saya sudah duduk di depan ruangan HMJ. Saya nggak mau terlambat. Bisa jadi, itu merupakan salah satu syarat penilaiannya. Saya sudah menunggu di depan ruang HMJ satu jam sebelum waktu yang telah ditentukan.

Selain nggak ingin telat saat tes wawancara, saya juga mengenakan pakaian yang mencerminkan diri saya siap untuk menjadi anggota HMJ. Saya memakai batik coklat bermotif bunga-bunga dengan bawahan celana kain dan sepatu pantofel. Saya merasa jadi anggota DPR waktu itu.

Saat giliran saya tiba, dari dalam ruangan keluar salah satu teman kelas yang ikut tes juga. Pastinya dia baru saja selesai tes wawancara. Tapi anehnya, dia hanya memakai pakaian biasa saja, nggak formal sama sekali. Dia memakai hem kotak-kotak berwarna hitam putih dan celana jeans berwana biru langit.

Setelah menanyakan tesnya seperti apa dan bersalaman, saya melihat diri saya sendiri lewat kaca jendela ruang HMJ.

“Kok pakaianku norak gini ya?” Tanya saya ke diri sendiri.

Saya buru-buru masuk. Di dalam, saya sudah ditunggu dua orang. Satu cewek memakai kaca mata dengan baju gamis berwarna pink dan seorang laki-laki berkulit gelap sedang duduk di pojokan. Saya mulai deg-degan. Teringat masa-masa tremor dulu.

Pertama, saya duduk di depan mbak-mbak berkacamata. Dia meminta saya untuk memperkanalkan diri. Sebisa mungkin, saya bertingkah sopan. Saya nggak cengengesan, apalagi main hulahop. Pokoknya sebisa mungkin saya terlihat keren dan tenang.

Begitu selesai perkenalan. Saya ditanya-tanya berbagai hal. Saya menjawab dengan jawaban yang dipanjang-pangjangkan agar terlihat cerdas.

“Kok kamu tegang banget sih ngomongnya?” kata mbak-mbak berkacamata ini “wajahmu, kaku banget, santai aja”.

Saya malah cengengesan. Jujur, itu pertama kalinya saya tes wawancara. Saya juga belum pernah baca-baca tips wawancara. Yang ada dalam pikirkan saya tentang tes wawancara adalah ngobrol berdua dengan santai. Tapi ternyata nggak kayak gitu, atmosfernya beda banget. Jantung saya deg-degan, telapak tangan penuh dengan keringat.

“Coba sebutkan rukun iman” perintah mbak berkacamata. Wajar aja ini jadi salah satu tes wawancara karena UMM merupakan kampus islam.

Karena saya lulusan MTs dan sering ngaji waktu kecil, saya yakin bisa menjawab pertanyaan itu dengan mudah. Namun yang terjadi malah sebaliknya, saya terbata-bata saat menyebutkannya. 

“Yang ke enam…” jawab saya pelan.

“Percaya kepada takdir” kata mbaknya malah lebih cepat.

“Kamu nggak pernah ngaji ya” katanya “lama banget mikirnya” ujar dia ketus. Saya merasa kerdil. Rasanya bukan kayak tes wawancara, malah kayak belajar ngaji.

“Masak rukun iman aja nggak ngerti?” Tanya mbaknya dengan nada satir. Kemudian dia ketawa terbahak-bahak.

Muka saya memerah.

“Yaudah kamu langsung ke situ aja” sambil menunjuk laki-laki yang ada pojokan.

Dengan perasaan malu dan wajah memerah, saya beranjak ke mas  yang duduk di pojokan. Saya kembali diminta untuk memperkenalkan diri. Habis itu, saya ditanya pengalaman berorganisasi waktu SMA. Saya menceritakan pengalaman sebagai anggota OSIS, anggota ekskul sepak bola dan tugas sebagai seksi keamanaan waktu pensi hari guru dulu.

Sehabis cerita, dia kemudian memuji saya dengan mengatakan kalau saya punya potensi bergabung dengan HMJ. Setelah ngobrol banyak dengan mas pojokan, wawancara selesai. Saya pergi setelah berpamitan dengan mereka berdua.

Di luar ruangan, saya langsung melafalkan rukun iman dengan sangat lancar. Saya menggelengkan kepala sambil berujar di dalam hati

“Ternyata masih cupu aja, ya”


Setelah menunggu selama seminggu, nama saya nggak ada di daftar calon anggota yang lolos. Saya sempat sedih memikirkan kebodohan yang menyebabkan saya nggak lolos jadi anggota HMJ, tapi itu nggak berlarut-larut karena saya memutuskan untuk melanjutkan hidup sambil terus makan mie instan sekali seminggu.

You Might Also Like

1 comments

  1. Ini pas nulis postingan tegang juga engga?
    Wah saya juga termasuk orang yang sama
    Kalo ngomong di depan orang rame, y gitu

    ReplyDelete

Komentar di sini aja, biar bisa blogwalking