Perkenalan Dengan Pram dan Gonjang Ganjing Bumi Manusia

May 28, 2018




Kalau tujuan Bumi Manusia difilmkan untuk meningkatkan minat baca dan mengenalkan karya sastra, barang tentu tujuan itu sudah tercapai. Malam ketika tahu Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer akan difilmkan, besoknya saya langsung ke toko buku, dan membeli bukunya.


Saya telah mengenal Pram sejak lama, saya sering mencomot kutipan-kutipan beliau untuk dijadikan caption tanpa tahu karyanya seperti apa. Awal perkenalan saya dengan Pram adalah ketika Kuliah Kerja Nyata (KKN) dulu. Saya diperkenalkan oleh salah seorang teman, namanya Azha. Sewaktu KKN, ia membawa beberapa buku, Salah satunya adalah karya Pram yang saya lupa judulnya. 

Saya membacanya sekilas, dan mulai tertarik. Kata Azha, saya harus membaca karya Pram dari awal, yaitu  Bumi Manusia, kemudian saya taruh kembali buku tersebut dan berjanji pada diri sendiri, suatu hari, pasti saya akan membacanya. Beberapa malam sebelum cast Bumi Manusia diumumkan, saya sedang membaca puisi karya Joko Pinurbo, dan di salah satu baitnya, ia menggunakan kutipan dari salah satu bukunya Pram Rumah Kaca. Juga, Beberapa kali ke toko buku pun, saya sering membolak balik buku-buku Pram. Masih belum mampu membeli, karena menurut saya, harganya terlampau mahal. Hehe.

Tiga hari, waktu yang saya butuhkan untuk membaca Bumi Manusia. Beberapa kegiatan saya 'liburkan' seperti bermain PES, hingga mengerjakan skripsi.

Lebih-lebih dari sebuah karya sastra, Bumi Manusia memberikan saya banyak pelajaran. Tiga hal yang saya dapatkan setelah membaca Bumi Manusia adalah, janganlah menjadi manusia bodoh, beranilah untuk hidup, dan hiduplah berani.

Minke mengajarkan saya menuntut ilmu itu penting, agar kita sebagi manusia dan bangsa, jangan mudah dibodohi. Saya belajar hidup dari Nyai Ontosoroh, ia berjuang sendirian walaupun ia hanya dianggap sebagai gundik. Ia berwawasan luas melebihi Minke, ia mendidik anaknya dengan keras, agar tidak seperti dirinya. Tipe single parent yang strong. Andai saja ibumu Nyai Ontosoroh, nona. Dari Annelies, saya belajar hidup berani. Keputusanmu di akhir cerita sungguh berani, noni. Selain cantik kamu hebat Annelies.

Dari Pram, saya belajar semuanya.

Saya lebih dulu tahu siapa pemeran dari Minke sebelum membaca bukunya. Jadi beberapa kali saat membayangkan sosoknya, terbayang Iqbaal Ramadhan yang sedang mengendarai motor. Untung saja untuk tokoh-tokoh lain, saya belum tahu, jadi saya membayangkan sendiri tokohnya seperti apa.

Namun setelah selesai membaca dan mencari siapa yang memerankan tokohnya, saya merasa belum ada kesalahan dalam pemilihan pemain, karena filmnya belum jadi. Satu hal yang saya yakini, sosok Sha Ine Febriyanti, sekiranya memang cocok memerankan Nyai Ontosoroh.

Mungkin banyak yang belum tahu, tapi skenario Bumi Manusia sudah dikembangkan sejak 2016, berarti sudah memakan waktu tiga tahun, tidak ada keraguan dalam hal itu, apalagi yang menulis naskahnya adalah Salman Aristo yang sudah kita tahu pengalamannya seperti apa. Ia juga yang menulis skenario Mencari Hilal, salah satu film favorit, yang sekaligus menjadi objek penelitian skripsi saya, hehe.

Selain itu, banyak yang mempertanyakan pemilihan Hanung Bramantyo sebagi sutradaranya, ya mungkin bisa diperdebatkan, tapi coba tonton film terbarunya, The Gift. Mungkin kamu akan setuju dengan istrinya Hanung, kalau film tersebut membikin Hanung seperti kembali pada gayanya semula.

Menurut saya, yang lebih riskan daripada siapa pemainnya, siapa penulis atau bahkan siapa sutradaranya adalah bagaiamana setting dan apa properti yang digunakan pada filmnya perlu kita 'kawal' bersama. Saya khawatir jika nanti Minke pergi bersekolah ke H.B.S, ia malah nyasar ke LSPR. (Tentu ini bercanda, jangan diambil hati)

You Might Also Like

4 comments

  1. Saya malah belum baca bukunya. Entah nanti filmnya bakal kayak gimana. Semoga dibuat seperti film Sang Pencerah, dramatis, menginspirasi, dan matang

    ReplyDelete
  2. Saya bukunya setahun yang lalu, tapi belum habis benar meski sudah lebih dari setengah dan peek-a-boo-in bagian akhirnya (hahaha curang parah). Belum abis karena rencananya buat jadi penelitian dengan teori Marxisme, tapi ga cukup waktu untuk telaah lebih lanjut. Akhrinya ganti novel pak Najib Mahfudz dari Mesir. Apaan dah.

    Sebelumnya saya sedikit banyak tahu kalau pemikiran dalam novel Pram itu lumayan banyak kontra-pro nya. Tapi jujuurrr banget, saya ga melihat di mana letak sisi yang menjadi keresahan pihak kontra. Ntahlah. Mungkin karena saya sendiri dididik dalam lingkungan yang sejalan dengan kebutuhuan dunia milenial-tapi-thug saat ini.

    Eh tapi juga, wajar sih. Ini novel kan terbit di jaman para wanita masih jadi bagian masyarakt kelas 2, marjinal.

    Dan sebagai penikmat buku, saya juga ga ada masalah dengan pemain filmnya nanti. Karena sudah punya imajinasi sendiri tentang sosok Minke dari buku.

    ReplyDelete
  3. Baca Minke malah kebayang Iqbaal naik motor. Setan emang lo rul. :)))

    ReplyDelete
  4. Alasan saya belum baca, harganya masih mahal dan pakai ejaan lama. Itu bikin agak pusing. Tapi apakah sekarang udah edisi barunya? Saya udah lama nggak ke toko buku lagi.

    Soal ribut-ribut yang Iqbaal akan memerankan Minke itu saya paling inget sama kalimat: "Adil sejak dalam pikiran." Itu ngena banget anjis. Wqwqwq.

    ReplyDelete

Komentar di sini aja, biar bisa blogwalking