Rindu Setelahnya Bernama Kenangan

Mei 07, 2016


Patah hati…

Rindu..

Kenangan..

Tiga kata yang menurutku punya keterkaitan.

Apa yang orang patah hati lakukan ketika merindukan masa lalu? Mengingat-ngingat kembali semua yang pernah dilakukan berdua. Tempat makan, café, jalan yang pernah dilewati berdua, film apa yang pernah ditonton berdua, makanan kesukaan, minuman kesukaan. Semuanya. Semuanya bercampur menjadi satu di kepala dan saling sepakat untuk menamakan diri mereka KENANGAN.

Begitu pula denganku. Tengah malam pukul 12 dini hari, mataku masih belum merasakan ngantuk sama sekali. Deru angin dari tempat jemuran pakaian terdengar sampai di kamar. Suara dengkuran anak kost juga saling sambut seperti orkestra. Suara-suara kendaraan lalu lalang masih terdengar walaupun tidak sering.

Mau kemana mereka tengah malam begini? Mencari jati diri atau bertapa agar dapat ilmu kebal?

Aku menyalakan laptop, siapa tahu ada film yang belum aku tonton. Siapa tahu dengan menonton film, nanti aku mengantuk, kemudian tiba-tiba tertidur. Aku membuka satu persatu folder mencari film, sekalian merapikan folder. Tiba-tiba tanganku berhenti mengklik mouse di sebuah folder yang aku beri nama.. Masa lalu.

Tanpa sengaja jari telunjukku menekan mouse sehingga folder itu.. menampilkan foto-foto kita, aku dan kamu yang masih tersimpan rapi. Berat hati sekedar untuk hidden folder, apalagi untuk menghapusnya.

Foto-foto kita membuatku mengingat beberapa hal yang pernah kita lakukan bersamaBahkan bukan hanya kenangan indah yang bisa aku ingat. Hal-hal yang membuatku sedihpun, aku masih mengingatnya sampai sekarang. Namanya juga kenangan tidak bisa dipilah atau dipilih. Terserah dia.

Aku memejamkan mata, berharap semuanya bisa aku lupakan dengan cepat, namun bukan itu yang aku dapat, malah sebaliknya, berusaha melupakannya membuatku mengingat hal-hal itu lagi, semakin menjadi-jadi.

****

Tepat sebulan kita pacaran, tepat di depan portal kostanmu, kamu memberikanku sebuah hadiah yang begitu spesial, yang tidak mungkin bisa aku lupakan, sampai kapanpun, kecuali aku lupa ingatan.

“Kenapa kamu kasih ini?” tanyaku sambil senyum-senyum tidak jelas.



“Nggak apa-apa” katamu, “itu hadiah buat kamu yang udah bisa ngertiin aku yang nyebelin ini” lanjutmu lagi. Kamu melemparkan senyum indahmu ke aku.

Sampai sekarang, aku juga masih senyum-senyum sendiri jika mengingat hadiah yang kamu berikan itu. Masih membekas. :)

Berbeda lagi dengan yang ini, kira-kira baru satu minggu kita pacaran, kamu pulang ke Balikpapan aku masih stay di Malang, pertama kalinya kita LDR. Malam itu kita videocall lewat Line, tapi karena sinyal di kamarku jelek, kita berpindah ke telponan saja.

“Nanti kalo kamu udah balik ke Malang, aku mau balik ke Lombok ya?” kataku dari balik telepon dengan nada bercanda.

“Kamu serius?” tanyamu penasaran.

Aku hanya menjawab iya, yang tidak kamu tahu, di kamar aku tertawa kecil. Tiba-tiba suaramu sendu, terisak saat bicara, aku kira kamu bercanda, ternyata kamu benar-benar menangis. Kamu menyalahkanku karena aku jadi pacar yang jahat karena ingin meninggalkanmu.

“Masa iya kamu tinggalin aku pas aku udah balik, kayak nggak mau ketemu” katamu, sambil terisak pelan.

Aku yang hanya niatnya bercanda, tertawa mendengar tangismu, jujur malam itu aku merasa senang. 

Aku seperti menemukan wanita yang benar-benar menyayangiku. Dengan tangismu aku merasa 
benar-benar milikmu.

Milikmu…

Aku tersenyum, sekali lagi.

Hari itu ada mbak Anggun, ada Iqbal yang menemanimu di Calais salah satu tempat favoritmu, untung saja mereka peka, setelah kedatanganku mereka pergi entah kemana, sehingga di tempat itu, menyisakan kita berduaSeperti biasa, kamu suka sekali dengan lelucon-leluconku, mau segaring apapun. Kamu pasti akan tetap tertawa.

Aku melihat Uno di meja sebelah, aku mengambil dan mengajakmu bermain.

“Ayo ajarin aku main Uno” pintaku.

“Iya” katamu halus. “tapi ada syaratnya” .

Aku mengerutkan kening, tanda bertanya.

“Yang kalah traktir nonton”

“Siap” kataku, setuju.

Kita bermain, kartu-kartu aku lemparkan ke atas kartu yang kamu keluarkan, tawamu pecah ketika aku beralasan saat kalah, tawamu pecah saat aku tidak memiliki kartu untuk melawanmu. Tawamu pecah saat aku berbuat curang. Hari itu adalah hari terindah, bersyukur sekali aku bisa bersamamu, melihat tawamu lepas, puas. waktu itu..

Jika aku boleh memutarkan waktu sebelum kita memutuskan untuk berpisah, aku ingin mengulang saat itu, saat kita bermain uno.

Jika saja aku tidak bodoh, aku ingin mengajakmu bermain uno lagi, setiap hari.

****

Aku membuka mata, pelan. Fotomu masih terlihat jelas di layar laptop, bodohnya, bukan mengklik close folder yang ada di pokjok kanan atas, aku malah asyik scroll down – scroll up foto-foto kita, sampai aku menemukan foto terakhirmu yang aku ambil saat kita makan di sebuah tempat makan di sekitar kostku, karena foto itu aku jadi ingat, pertengkaran hebat itu…

****

Tidak ada komunikasi beberapa hari. Aku hanya bisa mengetahui kabarmu dari salah satu sosial media, teman kerjamu yang sering update di sana. Hari itu aku melihat sebuah updatean, kamu sedang ada masalah. Aku menanyakan hal itu lewat chat dan telepon tapi tidak ada tanggapan. 

Akupun memutuskan untuk pergi ke tempat kerjamu dan menunggumu disana. Walaupun itu pilihan yang benar-benar salah.

Saat kamu pulang, ditempat parkir, pertengkaran-pertengakaran kecil mulai terjadi, sampai akhirnya kita berdua mengeluarkan semuanya dengan membabi buta, tanpa memikirkan ada yang melihat atau tidak. Belum selesai semua pembicaraan dan pertengakaran, kamu pergi meninggalkanku..

Setelah beberapa hari kejadian itu, kita sama-sama sepakat. Kita berpisah. Katamu kita lebih cocok berteman.

***

Move on itu bukan melupakan tapi mengikhlaskan. Pindah itu pilihan, memilih pindah atau tidak. Awalnya aku memilih untuk tetap mengingatmu, menyayangimu. Awalnya aku tidak ingin pindah, aku ingin tetap berdiri di belakangmu dengan harapan suatu saat kamu melihatku kembali. Namun sepertinya sekarang waktu yang tepat untuk ikhlas, untuk pindah. Demi pria baru yang sudah bersamamu.

Kabarnya kamu sudah ada pria baru ya? Selamat. Semoga pria itu tidak sebodoh aku yang menyakiti perempuan sebaik dan sesempurna kamu.

*Buka instagram, hapus foto kita berdua*

Ini bukan tentang cerita patah hati terhebat. Ini tentang cerita patah hati yang paling hebat. Yang aku patahkan sendiri dengan sikap dan sifat bodohku..

Semoga kamu bahagia dengan dia yang baru..

Begitu sakit, begitu bahagia mengingat-ngingat itu. Bercampur menjadi satu. Dalam mimpiku, aku pergi ke sebuah tempat yang aku tidak tahu di mana. Tapi aku bersyukur ada di tempat itu. Semoga tidak ada kamu di sana.


Asalkan kamu tahu, patah hati terhebat adalah... mengingatmu...






You Might Also Like

13 komentar

  1. i know it's from your deepest heart, man. Semoga segera mengikhlaskan :)


    pingin ikutan juga btw wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga, Ma..

      Ikut Ma ikut biar saingannya tambah banyak... Biar seru. (padahal bohong)

      Hapus
  2. "kita lebih cocok berteman" never works

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups bener banget. Wkwk.

      Tapi ya wes gpp Ram. Zantai. Haha

      Hapus
  3. Keren nih kisah yang satu ini hahaha :D Semoga menang ya.. Boleh baca juga versi patah hatinya gue hehe

    -jevonlevin.com

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apasih Sya. Bukan. Wkwk..

      Iya-iya. Ada yg harus berusaha dilupakan sih.. Sekarang. Huft.

      Hapus
  5. Udahlah move on rul hehehe *eh ini apa sih nyuruh move on ke orang* xD

    BalasHapus
  6. Ciaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

    BalasHapus
  7. "kita lebih cocok berteman" :')

    BalasHapus
  8. Hmmm.... jadi mas arul..... hmmm...
    Ditemukan dengan orang yang salah tanda-tanda semakin dekat dengan "si dia" yang emang jodoh dengan Mas Arul~

    BalasHapus
  9. patah hati - rindu - kenangan
    balik lagi kenangan - rindu - kenangan dst..
    dan akhirnya jadi berat untuk move on, hehehe..

    BalasHapus