#ReviewTrailer: Dilan 1990 Apaan Dah





“Saya bukan nggak suka Iqbal atau Vanesha, saya nggak suka Dilan di Film Dilan 1990”

Bisa dibilang, saya adalah penggemar anyar dari Dilan dan Pidi Baiq. Saya baru baca Dilan sekitar awal tahun 2016, entah itu udah masuk cetakan ke berapa belas, saya lupa. Waktu itu, bukunya juga minjem di… mantan.

Begitu baca nama Pidi Baiq, saya kira dia dari Lombok, karena ‘Baiq’ adalah nama marga bangsawan di sana, tapi ternyata dia dari Bandung. #huhu

Setelah selesai baca bukunya, saya yakin Dilan akan diangkat ke layar lebar, itu pasti terjadi karena jumlah pembacanya bwanyak banget. Karena memang jumlah pembaca bisa jadi salah satu faktor pendukung kalo PH pengin mengangkat buku jadi Film.


Di bukunya, Dilan bisa membuat semua pembacanya senyum-senyum sendiri karena karakternya. Saya yang cowok aja bisa senyum-senyum sendiri, apalagi cewek-cewek yang haus akan cinta.  

Dilan adalah karya pertama Pidi Baiq yang saya baca, kata beberapa orang, dialog-dialog yang dituliskan Pidi Baiq adalah ciri-khasnya, begitu juga dengan buku Dilan. Dialog-dialognya (dan tentunya imaginasi pembaca) bisa bikin senyum-senyum sendiri, dan membuat orang-orang yang punya cita-cita jadi penulis kayak saya jadi mikir “YA TUHAAAAAAN KAPAN BISA NULIS KAYAK PIDI BAIQ?!”

Setelah setahun lewat, akhirnya buku Dilan diangkat jadi Film. Sebagai penggemar, saya menantikan filmnya tayang.

Falcon, adalah production house yang memproduksi filmnya, salah satu PH besar yang ada di Indonesia, beberapa karya dari Falcon banyak yang laku di pasar, bahkan film terlaris Indonesia, Warkop DKI Reborn, PHnya adalah Falcon.

Strategi Falcon dan Pidi Baiq benar-benar cemerlang. Saat proses syuting, Dilan, sebagai sosok yang ditunggu, disembunyikan, itu keren parah.

Gara-gara strategi itu, orang-orang makin penasaran sama pemainnya, kecuali Milea (Vanesha) yang memang sudah dibocorkan dari awal. Tapi, hal itu juga bikin tambah penasaran sama pemain yang lain karena sosok Milea (secara fisik) sudah cocok di mata saya.

Beberapa bulan sebelum Trailer rilis, para pemain Dilan diumumkan, ada Debo, ada Brandon Salim, ada member JKT 48 yang super cute (atau udah keluar?) dan masih banyak pemain lain juga. Tapi, satu yang jadi sorotan, pemilihan karakter Dilan diwakilkan oleh Iqbal CJR. Banyak yang kontra sebab menurut mereka yang lebih cocok jadi karakter Dilan adalah Adipati Dolken , tapi nggak sedikit juga yang pro pemilihan Iqbal adalah pilihan yang tepat.

Selain itu, Pidi Baiq selaku penulis dan pemilih cast-nya, sempat mengatakan kepada netizen melalui twitter, kalo kita harus percaya sama pemilihan Iqbal sebagai Dilan.

berkat cuitan itu, berangsur-angsur kemarahan netizen yang kontra, hilang.

Waktu tahu Dilan diperankan oleh Iqbal, saya mah slow-slow aja karena sebagai mahasiswa audio visual, saya tau, karakter bisa dibentuk, apalagi sekelas Iqbal yang sudah sering tampil di TV apalagi karakternya Iqbal di film Ada Cinta  Di SMA  cukup tengil dan bad boy.

Hingga 13 Desember Trailer Film Dilan 1990 akhirnya keluar.

Saya baru nonton setelah lewat sehari. Itupun saya tahu dari akun @Cenayangfilm yang mengutip link trailernya, tanpa tahu gonjang-ganjing yang terjadi di internet gara-gara Dilan sebelumnya. 

Saya khusyuk menonton dengan ekspektasi tinggi sampai habis. Lepas itu saya langsung ‘nyinyir di twitter’

‘TRAILER DILAN APAAN DAH’

Sebagai penggemar Dilan, ekspektasi dan keyakinan saya terhadap Iqbal jadi turun. Di setiap dialog yang dia ucapkan kayak nggak ada Dilan di sana, nggak nyentuh sama sekali dan malah terkesan datar. Apalagi disetiap dialog yang Iqbal ucapin, dia kayak senyum gitu. Duh, apaan dah.

Imajinasi saya ketika baca bukunya itu menggambarkan Dilan setiap ngomong wajahnya lempeng tapi penuh karisma dan cuek abis, langsung gugur seketika. Kurang bad boy. 

Karakternya Iqbal yang main di Ada Cinta Di SMA menurut saya lebih cocok memerankan Dilan.

Q: HALAH SOK TAU KAMU RUL! KALO MENURUTMU IQBAL NGGAK COCOK JADI DILAN, APALAGI  KAMU! EMANG KAMU BISA?!

A: DENGAN SANGAT YAKIN, SAYA AKAN JAWAB, SAYA EMANG NGGAK BISA.

  Tapi gini, saya setuju sama cuitan yang saya baca beberapa hari lalu, cuitannya tentang    buku sih, tapi relevan kok sama film.

Cuitan dari @jandralee
How To Support Author Without Spending Any Money:
-          Review the book on Amazon
-          Review the book… anywhere
-          Follow them on social media
-          Post about the book
-          Tell a friend (or 20) abaout the book
-          Say hi
-          Ask your local library to add the book  to their collection

  Mari kita ganti objeknya menjadi film.

-          Review filmnya di ImDb, atau Rottentomatoes
-          Review filmnya di mana aja
-          Follow pembuat filmnya di media sosial
-          Posting tentang bukunya
-          Kasih tau temenmu
-          Katakan hai!
-          Lakukan screening khusus terhadap filmnya.
-           Beli DVD bajakannya

Ngasih review kritik lewat postingan blog dan twitter, udah termasuk 3 hal yang saya bold itu kan? Berarti orang-orang yang mengkritik karya idolanya itu udah termasuk support dong? Jadi bagi yang pro, jangan salahkan yang kontra, bagi yang kontra jangan salahkan yang pro, kita sama-sama mendukung tapi lewat jalur yang berbeda.

Q: Ngaca dong, itu kamu kasih kritik tapi nggak ada solusinya, itu namanya bukan kritik tapi menghujat!

A: Oh, mau saran? oke! mas Pidi Baiq, saya mau kasih saran, gimana kalo ulang lagi castingnya?

NETIZEN: Eh nggak bisa ya, udah jadi gitu filmnya, nanti budgetnya malah membengkak, rugi dong!

A: Hmm, kalo gitu, ulang dari reading deh...

NETIZEN: Ya sama aja, mulai dari awal lagi, nggak ngerti film nih!

A: Kalo gitu, re-take deh? Gimana?

NETIZEN: Sama aja! males ah ngomong sama orang goblok!

Lah, mau gimana lagi coba, kalo perbaikin ya, ulang dari tahap pra-produksi, dong!

Setelah meneliti di twitter, ternyata saya bukan sendirian yang punya pendapat sama, ini nih sebagiannya.





Selain itu, saya juga teliti di instagram, nanyain gimana pendapat mereka yang udah nonton trailernya Dilan, sebagian besar bilang Iqbal kaku banget di dialognya. Tuh kan, saya nggak sendiri!

Saya punya tips nih bagi yang mau nonton trailernya: Turunkan ekspektasi serendah mungkin :p

Q: Yauda si, Rul, itu kan baru Trailer belum filmnya, siapa tahu bagus.

Nanti, kalo ada kesempatan, saya pasti akan nonton sebagai bentuk apresiasi saya ke pembuat filmnya (walaupun hasrat buat nonton udah hilang) kamu juga jangan lupa nonton yha!

Semoga aja nanti filmnya bagus! Amin!

Eh aku punya pertanyaan, kalian sadar nggak sih, sutradara Dilan ini Fajar Bustomi yang udah jadi sutradara di beberapa film keren Indonesia? Aku kok baru ngeh ya, setelah nulis postingan ini. hehe.

Ini juga nih, saking superiornya karakter atau tokoh Milea dan Dilan, kita jadi mengesampingkan karakter, tokoh atau pemain yang lain, ya nggak? Tokoh favoritmu selain Dilan dan Milea siapa dan kenapa? Tulis ya komentarmu di bawah.

Terus, menurut kalian trailernya Dilan gimana? Kasih komentar juga ya.

Hamba Allah ini akan menunggumu!




6 Comments

  1. Setuju banget rul.
    Tapi aku juga kurang suka sih sama mileanya kurang kalem haha

    Mari kita nonton filmnya untuk membuktikan apakah bagus atau tidak hehe

    ReplyDelete
  2. Mohon maaf, Rul, saya bukan pencinta Dilan. Jadi saya nggak peduli dia kayak gimana di film. Karena saya emang lebih suka baca akhir-akhir ini daripada nonton. Saya cuma pernah baca bukunya yang pertama itu. Menurut saya bagus saat itu. Bahkan, itu yang sebelum edisi revisi apa. Tapi saya minjem dari temen. Ehe.

    Iya, karena saya emang nggak kenal awalnya siapa Pidi Baiq. Namun seinget saya, sebelumnya udah pernah baca buku Kang Pidi yang drunken-drunken itu. Dan, ini pun minjem. Wqwq. Saya emang dulu belum punya banyak buku, jadi apa-apa minjem gitu. Saya akui, awalnya gaya bercerita Pidi Baiq itu aneh buat saya. Baik di novel atau kumcernya. Anehnya, saya tetep ketawa sama tulisan dia. Komedi yang dia suguhkan ke saya seperti ada ciri khas tersendiri. Setiap tulisan pasti ada gayanya masing-masing, kan? Hm, tapi saya nggak kayak kamu yang mikir kapan bisa nulis seperti Pidi Baiq. Saya cuma mikir, kenapa saya nggak percaya diri dengan gaya saya sendiri untuk bisa nerbitin buku? Padahal, saya bisa milih jalur indie kalaupun penerbit mayor semakin sulit.

    Yah, entahlah saya ini komentar apa. :)

    Dan saya setuju, kontra dan mengkritik termasuk bagian dari dukungan atas sebuah karya. Saya justru menyukai kritik dan saran. Karena tanpa itu, saya nggak tahu apa kekurangan saya dalam berkarya. :D

    ReplyDelete
  3. Gue udah baca buku dan nonton trailernyaa. Kayak agak kaku emang dialognya sih menurut gue untuk diomongin secara langsung gitu. Mungkin lebih cocok kalo Dilan dibuat agak sangar dikit. Kayak Stone Cold Stoner misalnya.

    ReplyDelete
  4. Ya Allah ternyata bukan cuma gue yang ngerasa kalau dilan di film itu mengecewakan, bukan iqbal yang gue engga suka, tapi caranya memerankan dilan, jauh luar biasa dari ekspetasi gue, gue aja liat trailernya kok malah geli sendiri ya? engga cocok, jadi aneh, tapi mungkin karna memang karakter dilan emang susah kali ya diperankan? pokoknya gue waktu nonton trailernya tuh dalem ati "apa banget sih"

    yang fail banget waktu gue denger "jangan rindu, berat, kamu ga akan kuat" sumpah itu bikin gue kecewa banget sama trailernya,


    ReplyDelete
  5. Sepakat, Rul! Iqbal tiap ngegombal ekspresinya kayak senyum2 najong. Mungkin karena emang susah kali mengeluarkan efek magis dari kata2 Dilan. Jadi akhirnya Iqbal milih mengeluarkan efek cute-cute ganteng.

    ReplyDelete

Komentar di sini aja, biar bisa blogwalking