Komunikasian: Pertama Kali Naik Pesawat #2

Sekitar 10 menit sebelum pendaratan, badan saya seperti digoyang-goyang. Saya kira pesawatnya lagi karaoke dangdut koplo. Ternyata itu adalah kerjaan Alin untuk membangunkan saya.


“Bentar lagi turun kak” katanya.

Sambil mengucek-ngucek mata, saya memperhatikan sekeliling, nggak ada kursi yang hilang atau pramugari pura-pura kayang. Begitu pandangan terhenti di jendela pesawat, saya cuma bisa berujar “subhanallah” lagi karena pemandangan indah yang saya liat.

Kali ini saya nggak dilirik  sama penumpang lain.

Saya baru sadar  ternyata pemandangan dari dalam pesawat itu bagus banget, dari pesawat mulai terbang saya nggak sadar karena panik gara-gara kuping saya berdengung.

Ketika pesawat sudah landing dan pilot mengabarkan kami semua sudah tiba di Surabaya, perasaan saya jadi seneng banget. Saya merasa bangga aja gitu bisa sampai Surabaya.

Sesuai intruksi dari mas-mas baju biru, kalo kami sudah tiba di bandara, dia menyarankan kami untuk mengikuti penumpang yang ada di depan kami. Awalnya saya sih iya-iya aja, tapi kalo dipikir-pikir lagi, bisa salah juga.

Kalo orang yang di depan kami ini tumben naik pesawat juga gimana? Kalo misalkan ternyata pesawat yang kami tumpangi ini semua penumpangnya baru pertama kali naik pesawat gimana? Mau liat google maps juga nggak bisa, kan.

Kelamaan berkhayal dan bertanya dalam hati, tanpa sadar kami sudah ada di lorong menuju bandara Juanda. Kami bertiga jalan pelanga-plongo nggak tau mau ngapain. Ketika kami bertiga saling pandang, seolah-olah tatapan kami itu bilang “habis ini ngapain ya?”

Saat jalan di atas lorong dengan karpet merah, kami melihat ke landasan pacu yang ada di bawah ketika koper-koper dipindahkan dari bagasi pesawat ke sebuah troli besar.

“Eh kayaknya kita salah jalan deh ini, itu koper-koper kita kok ada di bawah ya?” celetuk saya sambil menunjuk koper-koper tersebut.

“Oh iya-iya” kata Alin dan Ani kompak.

“Eh iya ini, kayaknya kita salah jalan” kata Alin tambah meyakinkan kami “Ayo balik aja”
Kami bertiga kembali ke arah pesawat dengan langkah kaki cepat. Sampai di pintu pesawat, kami nggak menemukan jalan turun. Saya celingak celinguk.

Ternyata sejak balik arah tadi, kami diperhatikan terus oleh pramugarinya, mungkin pramugarinya bingung melihat tiga orang desa kayak kami ini. Pramugarinya pasti sadar, ini pertama kalinya kami naik pesawat.

“Mas, mbak lewat sana ya” kata mbak pramugari yang rambutnya dicepol sambil menunjuk ke arah lorong yang sudah kami lewati tadi.

“O-oh i-ya mbak, ta-di kayaknya bu-ku saya ketinggalan, tapi pas saya inget-inget udah di tas” ucap saya terbata-bata. Padahal saya nggak bawa buku sama sekali.

Kami bertiga kemudian putar arah lagi. Setelah agak jauh dari pandangan pramugari, kami bertiga saling pandang dan sok-sokan ketawa, pura-pura nggak ada yang terjadi.

Ternyata kami goblok.

Dengan terus mengikuti penumpang di depan, kami akhirnya tiba di ban berjalan tempat menunggu koper. Di bandara Juanda, ada tiga ban berjalan. Ada di kiri, tengah dan kanan. Karena kami nggak tau apa-apa, kami memutuskan masing-masing orang untuk menjaga satu ban berjalan. Biar koper kami nggak kelewatan.

Hampir setengah jam kami nunggu, koper kami masih belum nampak. Kami masih saling berhubungan lewat aplikasi chat. Sampai saya sadar, ternyata di setiap ban berjalan ada monitor yang menunjukkan ban berjalan itu dari daerah mana.

Kalo nggak salah di tempat saya nunggu, waktu itu koper-koper dari Jakarta. Pantas aja 30 menit menunggu nggak muncul-muncul.

Saya meminta Alin dan Ani untuk melihat masing-masing monitor ban berjalan mereka, ternyata yang dari Lombok ada di tempatnya Alin. Saya dan Ani buru-buru pindah ke ban berjalan yang ada di tengah.

Koper ungu, merah, koper besar, kardus coklat dan berbagai jenis tas lewat tanpa permisi dan sopan santun, tapi belum ada tanda-tanda koper miliki kami, saya mulai panik.

“Lin, Alin ini kita nggak salah bandara kan?” tanya saya berbisik.

Dia menatap saya aneh.

Wajah Alin sumringah setelah melihat kopernya ada di ujung ban berjalan.

“Itu koper kita, itu!” teriaknya pelan sambil menunjuk.

Akhirnya koper kami sampai di tangan pemilikinya. Setelah pengecekan nomer koper, kami bertiga keluar dari bandara, begitu pintu ruang ban berjalan terbuka kami disambut oleh para sopir yang mencari penumpang.

“Ayo mbak mas”

“Mbak mas mau kemana, ke Malang cuma 80 ribu lho

“Mbak mas, mau tinggi, cek IG kita sist

Melihat antusias para supir yang menghampiri kami, saya merasa jadi atlet yang mengharumkan nama Indonesia yang baru pulang dari Amerika setelah mendapatakan emas di Olimpiade dalam lomba angkat koper.

“Iya iya pak, tapi maaf kami udah pesen travel” Jawaban yang kami pake kalo ketemu sopir travel atau sopir taksi.

Setelah  ketemu sopir travel yang kami booking jauh-jauh hari, kami langsung masuk dengan membabi buta, maklum baru pertama kali naik mobil.  Koper kami dirapikan oleh sopir di bagian belakang, habis itu dia langsung beranjak ke kemudi dan langsung cabut ke Malang.

***

Nyampe di Malang, kami tiba di sebuah daerah bernama Sigura-gura, tempat salah satu sahabat atau keluarganya Alin tinggal. Beristirahat beberapa menit, saya meminta Fazil, salah satu teman MTs saya dulu untuk menjemput saya dan numpang nginep di kontrakan dia. Besoknya, saya langsung daftar ulang dan di hari itu juga saya resmi jadi mahasiswa komunikasi UMM! Yiha!

Setelah daftar ulang, Alin langsung ngajak saya pulang. Mm, saya aja sih yang daftar ulang, kalo Alin nggak jadi kuliah di UMM. Setelah tiga hari di Malang, dia bilang nggak betah dan kangen 
ibunya di rumah.

Sebenarnya, saya nggak pengin ikut pulang bareng Alin dan Ani, tapi demi tutorial bagaimana cara pulang melalui bandara Juanda terpenuhi, nggapapa deh keluar duit banyak. Namanya juga pengalaman.

***

Setelah nyobain naik pesawat beberapa kali, saya jadi pelanggan tetap. Kalo nggak ada saya, Bandara Internasional Lombok (BIL) di Praya, nggak bakal ada gunanya. Setiap kali ke Malang, saya nggak bernah absen pakai pesawat. Harusnya saya diendorse nih.

Karena keseringan jadi pengunjung bandara dan pelanggan tetap travel, saya punya banyak kisah mengenai itu, baik yang beruntung atau apesnya minta ampun. Sebenernya ada beberapa kisah, tapi saya mau cerita satu aja di postingan minggu depan.

Komunikasian: Sepatu Merah

1 Comments

Komentar di sini aja, biar bisa blogwalking