Komunikasian: Magang #1


Magang merupakan salah satu kegiatan yang mahasiswa banget. Yang identik sama magang ini pasti para mahasiswa, jarang banget pengangguran ada yang magang. Apalagi tukang ojek, pasti nggak ada yang magang jadi tukan ledeng.

Tapi di kampus saya, khususnya jurusan Komunikasi, meniadakan magang karena dirasa nggak efektif.

“Kita nggak ada program magang karena dulu-dulu banyak mahasiswa yang magang cuma disuruh fotocopy sama bikin kopi. Nggak sesuai sama bidang yang sudah dipelajari di kampus” kata salah satu dosen saat ditanya kenapa program magang nggak ada.

Hal itu memang benar. Saat liburan semester kemarin, salah satu teman tapi beda jurusan saya magang di salah satu lembaga pemerintahan, katanya kerjaan dia cuma duduk-duduk atau cuma keliling-keliling kota aja.

Walaupun begitu, jurusan saya nggak melarang siapa saja yang mau magang, tinggal minta surat rekomendasi dari jurusan.

Hal itu nggak saya sia-siakan. Sebagai mahasiswa yang ingin menghilangkan rasa cupu, saya pernah ikut program magang yang diselenggarakan oleh salah satu perusahaan besar di Indonesia.

***

Di awal semester tiga yang cerah.

Sepulang kuliah sore saya langsung rebahan di kasur tanpa copot pakaian. Saya membuka satu per satu grup Line yang saya ikuti, biasanya isi grup kalo nggak jualan atau perang stiker, tapi waktu itu di salah satu grup blogger tempat saya bergabung, salah satu teman, namanya Fery membagikan poster magang sebuah perusahaan provider besar Indonesia, kita sebut saja namanya adalah Provider Merah. Nama program magangnya adalah Provider Merah Apprentice Program. Biar gampang  disebut, kita singkat saja jadi MAP.

Di poster, dituliskan beberapa syarat yang bisa mengikuti program magang tersebut. Seperti, pendaftar harus menjadi mahasiswa aktif, bisa bekerja secara tim,  aktif di sosial media, tidak trek-trekan dan tidak narkoba.

Aktif di sosial media adalah salah satu syarat yang paling saya perhatikan karena saya memang aktif di sosial media, selain karena senang, waktu itu saya juga nggak punya pacar. Jadi nggak tau mau ngapain selain main Instragram, Twitter dan Facebook. Kuota saya habis untuk main tiga sosial media itu.

Mengetahui informasi itu, saya langsung memberi tahu salah satu teman kos yang ada di kamar sebelah, namanya Fazil. Ia merupakan teman sekolah saya waktu MTS dulu, perawakanya lebih tinggi dari saya sedikit, dan punya badan yang maco. Dengan kumis tipis di bawah hidungya dan pintar bermain gitar, ia jadi rebutan di jurusannya di Fakultas Ekonomi. Cocoklah sama yang jualan-jualan pulsa kayak gini.

“Zil, ayo ikut magang, daripada nganggur tok di kostan” ajak saya tanpa penuh rayu.

Dia langsung setuju, secara resmi hari itu kami langsung mendaftar.

Beberapa hari bersalang, saya mendapat pesan singkat dari nomor yang nggak dikenal. Disitu tertulis kalo saya berhasil diterima magang. Saya cuma senyum, nggak tau mau ngapain. Saya nggak tau cara bertingkah yang benar setelah diterima magang, karena belum pernah sebelumnya. Ini merupakan sebuah achievement buat saya. Selain karena bisa merasakan atmosfer kerja, ini juga merupakan pencapaian karena bisa lolos, biasanya kan fail terus.

Saya agak sedih karena Fazil nggak lolos. nggak sedih-sedih banget sih, ya cuma merasa hampa aja. Pada pesan singkat itu juga tertera tanggal untuk pertemuan pertama di kantor Provider Merah cabang Malang yang saya nggak tau tempatnya di mana.

Bermodalkan google map, di hari H pertemuan pertama, saya berhasil sampai dengan selamat di kantor Provider Merah. Begitu masuk gedungnya, hal pertama yang saya lakukan adalah bertanya ke resepsionis, di mana letak ruang pertemuan peserta magang yang diterima. Saya langsung diarahkan ke lantai tiga.

Saya berjalan pelan sambil celingak-celinguk memperhatikan isi gedung. Temboknya dicat dengan dominan warna putih. Sedangkan ornamen-ornamennya seperti lukisan, jam dinding dan wallpaper didominasi dengan warna merah.

Sampai di lantai tiga, di depan sebuah ruangan duduk wanita dengan rambut terurai  sambil bermain handphone, ia menggunakan baju berkerah dengan logo Provider Merah di saku kirinya.

“Permisi mbak, ruangan peserta MAP yang diterima di mana ya?”

Mbaknya reflek melihat ke arah saya.

“Oh iya di sini, ini isi absen dulu” katanya.

Begitu pertama kali melihat mbak-nya ini, saya langsung betah. Wajahnya teduh, hidungnya mancung. Saat dia tersenyum, ginsulnya menyembul keluar. Keindahan senyumnya berlipat ganda. 

Setelah menulis nama dan tanda tangan, saya langsung dipersilakan masuk ke dalam ruangan. Di sana sudah ada beberapa orang. Saya memilih duduk di kursi kosong sebelah mbak-mbak dengan baju merah dan rambut sebahu.

Karena saya orangnya pemalu saat ketemu di awal, tapi malu-maluin kalo udah lama kenal, selama menunggu acara di buka, saya cuma diam sambil sesekali menyapu seluruh ruangan, untuk mencari cewek-cewek cantik yang ada di sana.

Beberapa menit kemudian mbak-mbak yang ada di luar tadi masuk dengan seorang laki-laki berseragam sama. Laki-laki Rambutnya disisir ke kanan, dengan pomade disampu habis dirambutnya. Itu kena angin puting beliung aja, rambutnya nggak bakalan berubah.

Dengan sedikit gimmick di awal, kemudian dilanjutkan dengan perkenalan dari mbak, dan masnya. 

Masing-masing nama mereka adalah Mbak Dinda dan Mas Aciel, mereka berdua adalah karyawan di Provider Merah cabang Malang.

Seusai perkenalan dari mereka,  dilanjutkan perkenalan dari kami masing-masing. Mbak-mbak baju merah dengan rambut sebahu namanya mbak Desi. Sedangkan mas-mas yang ada di sebelah kiri saya namanya mas Samudra, kami satu kampus, satu Fakultas tapi beda jurusan.

Perkenalan selesai dalam waktu 30 menit. Lepas itu mbak Dinda dan mas Aciel secara bergantian menjelaskan apa yang harus kami kerjakan ketika magang nanti.

“Yang perlu temen-temen lakukan nanti, mirip seperti pegawai Telkomsel yang lain” katanya “Melakukan selling kartu, paket data dan menjual pulsa”

Awalnya saya agak ragu untuk melanjutkan program magang ini, saya merasa nggak cocok untuk jualan. Diminta jaga warung di rumah aja, saya pura-pura ada les apalagi yang kayak gini. Tapi hitung-hitung untuk menambah pengalaman, sekaligus mempraktekkan mata kuliah komunikasi pemasaran, saya harus jalankan sepenuh hati, sepenuh jiwa raga Smash. itu Rangga, bye the way.

Penjelasan selanjutnya dilanjutkan oleh mas Aciel dengan menjabarkan produk-produk apa saja yang Provider Merah punya, layanan apa saja, dan masih banyak lagi.

Di detik-detik terakhir sebelum pertemuan berakhir, kami semua yang ada di ruangan itu dimasukkan ke sebuah grup Line berisi lebih dari 50 orang, yang memiliki tujuan sama. Mendapatkan pengalaman kerja sedini mungkin.

Saya udah nggak sabar, menguji mental.

2 Comments

  1. Rajin juga nyapuin ruangan
    Yah kok abis sih
    Kan belum tw manggangnya kayak apa
    Jualan pulsa y? Di konter?

    ReplyDelete
  2. Emang gingsul itu punya daya tarik tersendiri, ya. :3

    Zaman saya SMK, sih, kalau magang alias PKL di supermarket karena Jurusan Pemasaran. Pas kuliah, saya ambil kelas karyawan dan nggak ada magang. Tapi saya inget banget zaman SMK sering disuruh dagang-dagang gitu. Pas dagang makanan dengan buka stand, sih, saya seneng banget.

    Tapi kalau udah kerja sama dengan pihak lain dan ditargetkan penjualannya, ampunlah males. :( Dari yang awalnya teh sedapwangi, sampai kosmetik. Ujung-ujungnya uang saku saya tabung demi bisa laku. Atau nyuruh ibu saya yang jualin ke tetangga.

    ReplyDelete

Komentar di sini aja, biar bisa blogwalking