Cita-cita Swipe Up

Juli 11, 2019


Saya punya cita-cita yang cukup bikin siapa saja yang mendengarnya mungkin akan bilang ‘cita-cita kamu norak juga ya’. Jujur, saya pengin banget punya akun Instagram yang bisa swipe up (artinya harus punya follower lebih dari 10K). Terdengar pengin banget jadi selebgram tapi percayalah, punya akun yang bisa swipe up itu pasti cita-cita semua blogger. 

Mungkin para blogger yang mentok dan berada di situ-situ aja paham kenapa saya pengin banget bisa swipe up. Alasannya cuma satu, biar promosi atau mau menyebar link, jadi gampang. Kalau sudah bisa, nggak perlu lagi setiap kali promo tulisan baru di blog atau video di youtube atau apalah itu pakai nulis ‘klik link di bio aku ya’ di Instastory. Menurut saya, frasa klik link di bio itu malah terasa sangat pengin jadi selebgram banget.

Banyak cara yang saya lakukan agar bisa meraih ciat-cita swipe up ini. Apa daya, follower saya segitu-gitu aja, nggak ada peningkatan yang signifikan. Apa saya perlu bikin video beli cupang leher ya biar viral?

Hal pertama yang saya lakukan adalah bikin konten video lucu. Hasilnya nggak ngaruh banyak. Video saya yang tayang di the Comment 3 kali pun, nggak ngaruh apa-apa. Maksud saya, setelah tayang di the Comment harusnya follower saya naik dong, ya nggak sih? Bahkan sampai saya merasa ide sudah mentok dan nggak bisa lucu lagi, follower saya nggak bertambah. Akhirnya saya berhenti bikin video-video kayak gitu.

Usaha yang kedua adalah upload foto selfie. Hal ini saya lakukan karena terinspirasi dari cewek-cewek cantik dan seksi di Instagram. Pasti pernah lihat kan akun cewek yang isinya selfie aja tapi followernya bisa sampai 100K. Pakai strategi apa sih mereka itu. Yang lain sudah berusaha keras bikin konten ini itu, mereka cuma pamer wajah cantik aja followernya banyak banget. Dengan wajah pas-pasan yang saya miliki hasilnya pasti sudah bisa ditebak. Follower nggak naik-naik, malah turun drastis.

Perjuangan berlanjut. Saya sempat beberapa saat bingung mau bikin apa, akhirnya saya memutuskan untuk bikin video komedi lagi. Tapi kali ini konten komedi yang nggak niat, isinya cuma tebak-tebakan receh tanpa proses kreatif sama sekali. Lagi-lagi saya mentok di ide. Lagi-lagi tanpa menghasilkan apa-apa.

Usaha selanjutnya yang saya lakukan adalah upload kerjaan. Instagram, saya bikin jadi portofolio online. Tapi sayang, karena pekerjaan sebagai videografer freelance jobnya nggak menentu dan nggak banyak,  video yang saya upload cuma sedikit. Jadinya nggak konsisten, dan akun saya jadi akun pengangguran.

Usaha yang baru-baru ini saya lakukan adalah ikut trend fotografi dengan hastag #creativemultiplepost. Pertama kali saya melihat postingan seperti itu, saya tertarik banget untuk ikut. Apa daya, seperti usaha-usaha sebelumnya, saya cuma upload 4 slide foto, habis itu stok foto saya habis.  

Karena kebingungan mau bikn apalagi, seminggu yang lalu saya coba berpikir konten apa yang sebaiknya saya buat untuk meraih cita-cita swipe up ini. Saya mulai riset kecil-kecilan ke akun-akun yang punya follower banyak. Sebagian besar feed Instagram influencer yang saya lihat, rapi semua. Misal traveller, fotonya, foto jalan-jalan semua. Kreator video, isinya pasti lebih banyak video. Saya sempat hopeless mau dibikin apa lagi, bahkan pernah terpikirkan untuk beli follower aja, tapi ditimbang-timbang  lagi buat apa membohongi diri sendiri.

Sampai satu waktu saya nggak sengaja main-main ke akun instagramnya mbak Windy Ariestanty. Dari sana, saya mulai mendapatkan pencerahan.

Feed Instagram mbak Windy bisa dibilang ‘berantakan’. Beragam jenis foto ada di sana. Ada lanscape, ada food photography, ada human interest, ada portrait. Intinya feed mbak Windy isinya beranekaragam, tapi akunnya udah bisa swipe up. Feed mbak Windy ini berlawanan dari akun influencer kebanyakan yang punya niche foto tertentu. 

Saya merenung, memikirkan apa yang bisa saya ambil dari akun mbak Windy. Ternyata ada dua hal, pertama konsisten, kedua bercerita. Mbak Windy selalu konsisten membagikan foto-foto perjalanannya, kemudian ia bercerita. Tentang apapun. Makanan, manusia, alam, hewan. Apapun. 

Saya mulai sadar, masalah saya selama ini cuma satu. Saya nggak konsisten melakukan semuanya. Hampir semuanya setengah-setengah. Dari sana saya mulai berencana, feed instagram saya nggak perlu rapi, yang penting konsisten dan tetap membagi cerita.

Oya, satu lagi yang saya dapat dari podcastnya Pandji Pragiwaksono yang baru-baru ini saya dengar, sesuatu yang kita kerjakan jeroannya harus unik. Berbeda dari yang lain. Proses mencari keunikan itu tuh yang memakan banyak waktu. Huhuhu~

Atau biar saya nggak capek mikir konten, Instagram perbarui saja fitur swipe up-nya biar semua pengguna bisa pakai, ya kan?


photo source: pexels.com

You Might Also Like

6 komentar

  1. Penutupnya, sekaligus menutup perjuangan kerasnya. Hahahaha. Perlu diaminkan gak?

    BalasHapus
  2. Beli followers aja. Etapi jadinya ga organik wkwkw.
    Kalo pernah tahu beberapa tuh. ada yang cuma sekali posting abis itu viral. Nambah deh banyak followers.

    Bukan cita-cita norak itu. Karena swipe up bisa mengubah hidup seseorang xD

    BalasHapus
  3. udeh beli follower saja. wqwqwq

    BalasHapus
  4. aku sampe mau beli followers.

    Tapi, itu gak boleh. Jangan sampai, karena sesuatu yg dipaksa dna terpaksa itu gak baik. ya gak?

    BalasHapus
  5. semua orang mempunyai jalan menempuh cita2 nya dengan cara yang berbeda2

    BalasHapus
  6. Aku aku aku! Aku ngrep bisa swipe up tapi sampe sekarang masih nyaman dengan klik link di bio, karena ya mampunya kan masih itu, jadi aku sih maximal-kan yang ada aja, daripada maksain angka yang jelas2 masih jauh ke angka 10K hahaha. Cara maximalkannya dengan bikin konten ig story yg bagus dan menarik~

    Hmmm menarik kata aku sih ya, gatau kata orang hahaha.

    BalasHapus