Pretty Boys (2019): Mengintip Belakang Layar Industri TV

September 21, 2019


   
             Saya tau Vincent & Desta udah dari lama, tapi ‘mengenal’ guyonan-guyonan atau tek-tokan recehnya yaitu semenjak mereka punya acara sendiri, Tonight Show. Salah satu bintang tamu yang paling saya ingat adalah ketika mereka mengundang Joko Anwar. Saya ingat banget, waktu itu Joko Anwar memakai kaos putih, dengan outer jaket jeans dan celana hitam. Mereka membahas film-film yang sudah Joko Anwar buat, dan tentu saja mereka juga membahas mengenai Joko Anwar yang rela bugil demi follower twitter.


                Selang beberapa tahun, saya cukup kaget mengetahui mereka berdua membintangi film berjudul Pretty Boys, debut penyutradaraannya Tompi yang lebih kita kenal sebagai dokter, penyanyi hits Indonesia, dan tentu saja seorang fotografer. Saya juga kaget begitu tau yang menulis naskah skenarionnya adalah Imam Darto. Pokoknya semua bikin kaget lah, soalnya tiba-tiba ada kabar mereka bikin film. Dengan alasan kaget itulah saya pengin banget untuk nonton film ini.

                Akhirnya, semalam saya nonton sendirian.
               
Pretty Boys sendiri bercerita tentang dua orang anak kampung bernama Anugerah (Vincent) dan Rahmat (Desta) yang bercita-cita menjadi seorang Host di televisi, tetapi malah mentok sebagai seorang juru masak di sebuah bar. Sepanjang film menceritakan mengenai perjuangan mereka baik saat mengejar panggung hingga tujuan mereka tercapai. Dari perjalanan itulah komedi a la Imam Darto dan duo Vincent Desta mengocok perut penonton. Kalau kamu penonton setia The Comment dan Tonight Show pasti relate banget dengan gaya komedi Pretty Boys ini.
               
Kuat dengan komedi khasnya, tidak membuat film ini berhenti dengan formula itu saja, sisi dramanya juga dipikirkan secara matang, sehingga porsi drama dan komedinya jadi seimbang. Dengan drama yang dibangun cukup rapi antara kisah masa lalu Anugrah dengan ayahnya (Roy Marten) juga bikin yang nonton jadi mewek. Apalagi ada bumbu-bumbu romansa yang dibangun Danilla sebagai Asty berhasil mempermanis filmnya. Film ini juga seperti menuntun kita untuk mengintip sedikit saja, apa saja hal yang terjadi di Industri film kita, walaupun hal-hal itu bukan sesuatu hal yang baru lagi.

Salah satu scene yang membuat saya tertawa lepas adalah ketika Desta membonceng Asty menuju tempat tinggalnya. Dengan acting Rahmat yang mumpuni dan dialog yang tepat membuat tawa penonton pecah. Bahkan saya sampai dilihat penonton sebelah gara-gara ketawa besar banget (kalau nggak mau dibilang ketawa saya aneh ya).

Yang cukup menjadi perhatian saya adalah tipe jokesnya yang repetitif mengenai laki-laki feminim (banci) di industri televisi. Karena terlalu sering menggunakan jokes yang sama, hingga penonton merasa jenuh yang menyebabkan beberapa punchine nggak sampai.

Tompi sebagai sutradara bisa dibilang berhasil mengarahkan dua talent utama hingga setiap tingkah laku karakter mendapat simpati dari penonton. Film ini juga berasa banget Tompinya karena saya merasa twit-twit Tompi mengenai politik dimasukkan di film ini. (Spoiler dikit) sering melihat Tompi berantem sama Fadli Zon? Nama itu disebut juga lho, haha.



Pengambilan gamarnya cukup hidup dan memanjakan mata sehingga filmnya tidak hanya sekadar terang saja. Namun menurut saya, yang cukup fatal adalah di beberapa bagian, pengambilan gambarnya yang nggak rapi. Banyak shot-shot yang motivasinya nggak jelas, jadinya membuat mata penonton capek melihat ketidak jelasan itu, tapi karena ini film pertama Tompi dan cerita yang rapi dan kuat, mungkin bisa diwajarkan kali ya?

Kalau soal editing, film ini juga cukup bagus walaupun di awal-awal film cut to cut-nya terasa kurang halus. Oya satu lagi yang bikin sebel nonton film ini adalah kontiniti adegan yang nggak pas, bikin saya keganggu. Walaupun nggak begitu berpengaruh ke jalan cerita, tapi itu penting agar penonton nggak bingung. Tadi yang tiba-tiba merem, kok jadi melek. Gitu.


Dua alasan kenapa kamu akan suka nonton film ini adalah

Komedi a la Vincent, Desta dan tentu saja Imam Darto sebagai penulis skenario pastinya akan menghibur kamu, apalagi kalo kamu sedang punya masalah. Buruan deh ditonton, dijamin setelah keluar bioskop, kamu akan ingat lagi masalahmu. Saya angkat topi buat Imam Darto berhasil bikin skenario yang rapi.

-  Soundtracknya yang cakep. Ada lagunya Danilla dan Nadin Amizah yang tentu saja bikin kuping kamu ketar ketir saking bagusnya.

Sedangkan dua alasan kenapa kamu nggak akan suka nonton film ini, adalah

-  Kalau kamu gampang tersinggung atau kamu seorang SJW, mungkin kamu nggak akan suka nonton film ini karena jokesnya repetitif dan cukup sensitif tentang laki-laki yang dianggap kurang baik jika menjadi feminim.

-  Kalau kamu pecinta visual yang ciamik, film ini cukup lah, tapi di beberapa bagian pengambilan gambarnya tidak memiliki motivasi nggak jelas.

Saya rasa review ini nggak ada apa-apanya dibanding dengan review Chandra Aditya di Provoke Megazine. Saya suka bagaimana dia menulis reviewnya, terasa mengalir banget. Walaupun saya nggak setuju dengan 100% pendapatnya dia, tapi tetep keren aja gitu. Pengin deh bisa nulis review kayak dia.

Oke segitu aja deh reviewnya. Yang belum dan ragu-ragu buat nonton, nonton aja. Asiq kok. Kalo ada yang nanya mau ngasih bintang berapa, aku kasih 3/5 deh ya.





You Might Also Like

3 komentar