Hampir Aja Jadi Penyiar Radio

Januari 07, 2020



Ada satu profesi yang pengin banget saya cobain di dunia ini, yaitu penyiar radio. Penyebabnya sebenarnya ada dua, pertama: banyak teman satu jurusan sewaktu kuliah dulu, jadi penyiar radio di Malang. Yang kedua: Penasaran sama suara-suara penyiar ini, pas ngobrol tentang tugas, atau hal-hal random lainnya, suara mereka tuh biasa aja, tapi begitu pegang mic, suaranya jadi beda, jadi lebih bagus dan ngebass. Aneh kan? Kok bisa gitu ya?


Namun, karena suara saya udah nggak ketolong dan kata orang-orang yang dengar kayak suara robot, cita-cita itu kayaknya cukup susah untuk diwujudkan. Tapi tenang, saya orangnya tidak mudah menyerah kok. Untuk mengakali cita-cita itu, saya  bikin podcast bareng teman SMA saya, nama podcastnya adalah Podcast Dua Ribu. Kalau mau dengerin bisa di Spotify. *Tetap promosi*

Ajaibnya, setelah satu bulan membuat podcast, tiba-tiba nih salah satu radio di Mataram buka lowongan penyiar baru. Saat itu saya udah kerja di salah satu fashion store bilangan Mataram sih, tapi karena saya tau penyiar radio itu kerjanya sangat fleksibel dan bisa menyesuaikan jam kerja, jadi saya mencoba untuk mengirim lamaran di hari terakhir.

Saya ingat banget waktu itu pukul dua belas siang. Saya lagi duduk di kantor sambil ngedit foto di photoshop. Tiba-tiba ada telepon dari nomor yang tidak dikenal. Saya angkat, dan ternyata nomor tersebut adalah ajakan untuk interview di radio tersebut pukul dua siangnya. Saya cukup senang tapi bingung juga karena waktu saya ngantor, cuma pakai kaos oblong saja. Berasa nggak sopan aja kalau mau interview dengan fashion santai begitu.

Saya sempat berpikir untuk mengambil baju ke rumah, tapi perjalannya jauh banget. Keburu pinggang keseleo. Saya juga mengontak teman-teman yang ada di Mataram untuk meminjam kemeja putih punya mereka, tapi nggak ada yang punya. Akhirnya mau nggak mau, ketika berangkat, saya beli kemeja di pinggir jalan. Saya cari yang paling murah. Pikiran saya waktu itu cuma satu. Nggak apa-apa nggak lolos, asalkan penampilan proper waktu interview. Jangan sampai malu-maluin buat diri sendiri.  

Singkat cerita, saya lolos interview dan diwajibkan untuk ikut training selama satu bulan ke depan. Saya excited banget. Satu profesi yang pengin banget saya cobain, sebentar lagi bisa saya jajal.

Di hari pertama training, sepulang kantor sekitar pukul enam sore saya langsung meluncur ke tempat siaran. Di ruang siaran, saya akan berlatih bersama salah satu penyiar senior, yang kurang lebih udah 5 tahun siaran di radio tersebut. Latihan pertama yang saya coba hari itu adalah station call, secara gampangnya yaitu menyebut tagline radio, secara tegas dan lancar. Kurang lebih station callnya tuh gini.

97,7 Lakker the lovely radio”

Station call itu saya ucapkan berkali-kali kurang lebih selama satu jam, tapi suara saya tetap aja jelek, katanya masih terengar sangat medok. Bukan medok Jawa ya, tapi medok Sasak. Berbeda banget ketika penyiar senior tersebut melafalkannya. Enak banget didengar. Aneh banget kan.

Dengan kondisi badan udah lumayan capek, saya mengendarai motor di jalanan yang cukup gelap. Jalan Baypass Lombok emang terkenal sepi dan gelap sih. Saya sampai rumah sekitar pukul sebelas malam. Ketika sampai di rumah, ibu, bapak dan adik-adik saya, Wanda dan Yoza sudah tidur semua, tapi pintu nggak dikunci. Saya pun masuk dan mengunci pintu pelan agar mereka nggak bangun gara-gara saya.

Berminggu-minggu rutinitas saya jadi seperti itu terus. Sepulang dari kantor, mampir ke tempat siaran, pulang, sampai rumah, semua orang udah tidur. Perasaan saya medeteksi ada yang salah dari ini semua. Hingga suatu hari ada momen yang membuat saya sadar. Waktu itu saya sedang latihan siaran, kira-kira masuk minggu kedua atau ketiga. Tiba-tiba telepon masuk dari bapak.

“Halo Rul, jam berapa pulang?”
“Ini bentar lagi, masih training di radio” ucap saya
“Ditungguin sama Yoza, katanya dia ada PR”
“Kenapa nggak bapak, mamak, atau Wanda dulu yang bantuin?”
“Nggak mau, dia. Maunya sama kamu aja”
“Hmm, iya dah tunggu, bentar lagi saya pulang, pak”

Lepas itu, saya mematikan telepon dan melanjutan latihan yang hari itu ternyata latihannya tambah sulit. Selain harus menguasai station call, saya juga harus bisa baca adlips. Berkali-kali saya coba pasti gagal terus. Pas baca mulut belibet, atau pas udah lancar, malah bingung mau ngomong apa di kalimat selanjutnya. Susah banget ternyata agar terdengar tidak membaca, padahal iklannya lagi saya baca. Butuh kemampuan improvisasi yang oke banget biar lancar.

Selesai latihan pukul sepuluh malam, saya bergegas memacu motor menuju rumah. Sengebut-ngebutnya, tetap saja sampai rumah pukul sebelas malam. Ternyata adik saya belum tidur. Dia masih duduk di sofa sambil memegang buku tugasnya, berusaha mengerjakan PRnya sendirian. Saya mendekatinya.

“Gimana Za, udah jadi?”
“Belum, lama banget sih pulangnya”

Hati saya kayak disentil. Ketika saya lihat matanya, matanya memerah. Pasti dia ngantuk banget. Dia rela nggak tidur demi nungguin saya. Melihat itu saya sedih banget. Pengin nangis tapi saya tahan-tahan. Meski begitu, dengan sedikit bantuan, PRnya bisa selesai malam itu juga, walaupun agak larut.

Di sisa-sia hari training pikiran jadi nggak tenang. Mulai kepikiran apa yang terjadi akhir-akhir ini. Saya kecapekan banget karena terlalu maksain dua kerjaan. 8 jam kerja kantoran, habis itu langsung ke radio. Waktu kumpul-kumpul bareng keluarga juga jadi nggak ada sama sekali. Setiap kali sampai di rumah, semua orang udah pada tidur.

Pikiran mulai campur aduk antara harus mengejar karier atau quality time bareng keluarga. Akhirnya setelah pergolakan batin yang cukup lama, saya memutuskan untuk berhenti ikutan training dan memilih sering-sering bareng keluarga. Saya juga sadar, sebenarnya kemampuan saya di bidang tersebut nggak se-oke peserta training yang lain.

Sebenarnya saya cukup menyayangkan keputusan saya waktu itu, karena saya udah lolos ke tahap selanjutnya. Hanya tinggal menyelesaikan beberapa tahap lagi, saya udah bisa mengundara. Tapi mau bagimana lagi, tujuan saya kerja di kampung halaman ya biar bisa lebih sering kumpul bareng keluarga sih. Kalau saya mau mengejar karier ya mending sekalian di Malang atau di Jakarta aja, ngapain susah-susah pulang kampung, ya kan?

Emang susah ya ternyata memilih keluarga atau karier. Antara dua hal itu, salah satunya, pasti harus dikorbankan.


You Might Also Like

1 komentar

  1. Kebayang sih gimana waktu kamu habis untuk menjalani dua kerjaan. Walau di awal katanya jam kerja penyiar itu fleksibel, tetap saja menggerus momen bareng keluarga. Mungkin pilihan saat ini memang yang paling baik. Fokus menjalani satu kerjaan, tapi kamu bisa punya waktu banyak untuk keluarga dan kawan2.

    BalasHapus