Pulang-Pergi

Januari 01, 2020



Saya kira selepas lulus kuliah pikiran
-pikiran berat tentang skripsi akan hilang dan membuat pikiran tenang seperti kata mahasiswa-mahasiswa yang lebih dulu lulus itu. Setiap kali ketemu sama alumni, pasti diminta untuk lebih cepat keluar dari kampus. Padahal kata-kata mereka itu cuma, BACOT! Kenyataannya, kehidupan setelah lulus berbeda banget.

Setelah puas berfoto ria sambil lempar-lempar toga di hari sebelumnya, Saya pikir keesokan harinya akan bisa santai-santai, menghabiskan waktu bermain game, menonton film di netflix atau sekadar dengar podcast di Spotify. Tapi entah dari mana, besoknya pikiran orang dewasa tiba-tiba muncul “Kapan nih cari kerja, masa nggak malu minta uang jajan lagi, padahal udah sarjana lho?”

Bajingan, kasih waktu sebentar kek buat chill.

Semenjak pikiran itu muncul, saya jadi bimbang terhadap masa depan. Pikiran itu membuat saya harus memilih meniti karier di kota mana. Mulai di Malang, pulang ke Lombok atau kerja di Jakarta sekalian. Sempat menimbang-nimbang, akhirnya memutuskan pulang ke Lombok saja, dengan pertimbangan: Udah 5 tahun nih merantau, pulang sebentar dulu deh buat mengobati rindu berkumpul dengan keluarga di rumah.

Sampailah di titik sekarang ini, saya sudah 8 bulan di Lombok, dapat kerjaan jadi mas-mas fotografer sekalian ngurus sosmed sebuah fashion store yang lumayan besar di Mataram. Enak sih kerjaannya, tapi capek juga setiap hari motoran selama dua jam untuk pulang pergi dari rumah ke kantor dan sebaliknya. Sempat kepikiran untuk indekos di Mataram, tapi setelah dipikir-pikir, KALO INDEKOS LAGI, NGAPAIN PULANG KAMPUNG! MENDING DIAM DI MALANG SAJA KAN!

Selama kurang lebih 8 bulan kerja di Mataram, saya cukup enjoy menjalaninnya. Saya dapat teman-teman baru, bos baru, dan tentunya pengalaman baru. Namun, di penghujung tahun kemarin, saya merasa waktu berkumpul bareng keluarga udah cukup. Keinginan saya untuk merantau, muncul kembali. Saya ingin mengejar cita-cita yang kayaknya kalau saya kelamaan diam di Lombok, cita-cita itu nggak akan terwujud deh.

Akhirnya, muncullah satu kota di kepala, Jakarta. *Play Jakarta-Jakarta by Kunto Aji* Saya rasa, Jakarta adalah kota dengan seribu harapan, apalagi untuk orang kampung kayak saya ini. Jakarta sudah seperti lampu ajaibnya Aladdin, bisa mengabulkan segala permintaan.

Apa daya, seperti orang-orang yang terlalu berharap pada kenyataan, lamaran pekerjaan yang saya apply ke perusahaan-perusahaan yang ada di Jakarta tanpa kabar semua, alias ditolak-tolakin, lolos tahap interview saja nggak ada. Padahal ya, kualifikasi saya untuk kerja di Jakarta tuh bisa banget lho (menurut saya pribadi). *Pede aja dulu*

Ya walaupun begitu, saya masih semangat untuk apply-apply ke seluruh perusahaan di Jakarta, siapa tau kan dari 1000 yang saya apply paling nggak ada lah satu. YA ALLAH masak sih nggak ada satu aja? Wkwkwk. Saya sih sabar-sabar aja nih, namanya cita-cita kan pasti sulit tercapai. Kalau mau mudah ya, rebahan aja di kasur. Ye kan?

Kita sebut saja kerja di Jakarta tahun 2020 adalah resolusinya Aruldagul.





You Might Also Like

1 komentar

  1. Misi mas fotografer. Saya mau ngefotoin monyet-monyet saya. Bisaaa??

    BalasHapus