Tampilkan postingan dengan label Cerita-Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita-Cerita. Tampilkan semua postingan
Foto bersama panutan q @RaviFaatih yang paling banyak membantu saat syuting

Sekitar 2 tahun yang lalu, Kancut Keblenger bikin challenge bagi siapa saja buat nulis selama sebulan penuh, kayak puasa. Setiap minggu ada temanya, salah satu temanya adalah apa yang kamu pengin lakukan/coba/cita-cita kamu ke depan, atau beberapa tahun ke depan, salah satu tulisan saya adalah pengin jadi seorang sutradara.
Aku yang kiri. Btw kalo dari belakang, aku lebih ganteng ya?
Bagi yang belum ngerti apa itu TAPcamp, saya jelasin dikit ya. Sekitar 10 menit saja. Kalau sudah selesai, kalian boleh tidur atau pulang. Terserah wes.
Menurut fakta-fakta tentang ikan yang pernah saya baca, selain ikan bernafas dengan insang dan dibuatkan beberapa film, salah satu hal lain yang saya tahu tentang ikan adalah hewan yang memiliki jangka ingatan yang sangat pendek. Hanya sekitar 4 detik.

Perhatikan baik-baik foto saya di bawah ini, muka saya biasa aja kan? Yup makasih.

Mayan lah ya.. Pas-pasan tetep.

 
Walaupun punya wajah pas-pasan, saya ini pernah masuk tipi lho. Nggak percaya? Sama saya juga. Hehe. Sebenarnya saya juga nggak percaya, mungkin waktu itu hanya kebetulan aja karena kamera lewat sekelabat di depan saya.

Pelan-pelan saya masukan semua yang saya butuhkan, laptop, headset, hape, hingga yang paling penting, mouse. Kalo nggak ada mouse laptop saya nggak bisa ngapa-ngapain, lumpuh.

Saya menarik resleting tas hingga tas coklat saya tertutup, walaupun sudah lusuh, bekas bolpoin di mana-mana, hingga kayaknya tali punggungnya mau sobek dan putus, tas coklat yang saya pakai ini adalah tas andalan saya, karena tas satu-satunya yang saya punya. Sedih.

Arul, Linda, Cici, Via (Dari Malang) Yayu nggak tak ajak foto, Byan, lagi mandi
Di postingan sebelumnya, saya pernah bilang, kalo tujuan saya pulang adalah diam di rumah, tapi nggak bakal diam di rumah terus, saya bakal sesekali jalan-jalan ke pantai atau kemana gitu.

Beberapa hari yang lalu, akhirnya saya keluar rumah juga, itupun karena ada teman dari Malang yang kebetulan datang ke Lombok. Ketika teman saya itu bilang mau datang ke Lombok, saya seneng banget, sayangnya teman saya itu datang bareng pacarnya, ah… Karena saya adalah tuan rumah yang baik, mau nggak mau saya harus nemenin mereka jalan-jalan ke beberapa tempat yang saya tahu.

Apa yang kalian bayangkan jika teman-teman kalian mengatakan “Lombok”? pasti banyak yang membayangkan pantai, deru ombak, pasir, gunung Rinjani, atau liburan. Nggak sedikit juga kalo ada yang bilang Lombok pasti ngebayangin sambal-ado, atau cabai.


Pukul 1.20 malam, aku masih terjaga, entah apa yang membuatku masih terjaga sampai selarut ini, mungkin karena udara dingin yang menderu pelan dari tempat jemuran baju kostku atau… kenangan-kenangan masa lalu yang masih menggores pelan di hatiku.
Suara motor masuk ke halaman kost terdengar jelas sampai kamar, suara motor saling sambut dengan suara gerimis yang jatuh ke atap kostan. Seperti orchestra tapi salah nada. Sedangkan saya masih sibuk membaca Tulak Rusuk Susu, milik Indra Widjaya.
Suara chat LINE bunyi berulang kali, entah dari siapa, manusia atau bukan, yang jelas itu mengganggu tidur saya yang lagi nyenyak-nyenyaknya. Manusia mana yang mengganggu tidur nyenyak mahasiswa yang suka begadang ini, sampai harus bangun pukul 9 pagi? FYI saya biasanya bangun jam pukul 9.30 pagi. Hehe.
Setiap malam, playlist yang saya putar adalah lagu Sheila on 7, nggak tau kenapa, Denger suaranya Duta bawaannya adem banget, efeknya sama seperti mendengar pengajian Ulama di Masjid samping kostan.
Beberapa minggu terakhir, saya jadi sering datang ke perpustakaan kampus, paling nggak saya usahain buat kesana sekali seminggu. Bukan karena saya suka baca buku pelajaran, tapi emang di perpustakaan kampus itu suasana nya adem. Levine.

Selain suasana nya adem, wajah-wajah cewek yang dateag ke perpustakaan juga nggak kalah adem. Pas ngeliat mereka ada aura-aura positif yang masuk ke hati. pokoknya gitu deh sulit dijelasin pake kata-kata. Penjaga perpustakaan juga kayak nya banyak kaka tingkat cewek yang part time. Sumpah mereka cantik-cantik. Tapi bukan selera saya. Nggak suka yang tua-tua.

Alasan yang paling masuk akal kenapa saya sering ke perpustakaan adalah karena ada WIFI gratis, dan disana enak banget kalo mau blogwalking atau nulis postingan baru. Apalagi kalo semua alasan tadi digabung jadi satu, pasti saya pindah kost ke perpustakaan.

Walaupun begitu, setiap kali saya ke perpustakaan kampus, pasti ada aja apesnya.

***

Dua minggu yang lalu saya pergi dengan dua temen kelas buat ngerjain tugas kelompok, Ridha dan Aina. sekitar pukul 2,  kami masuk dengan pede. saya yang udah lumayan sering ke perpustakaan waktu semester sebelumnya dengan PeDe meminjam kunci loker dan tas laptop. Iya emang di kampus saya, kalo bawa laptop ada tas khususnya, nggak boleh bawa tas ransel ke dalam perpustakaan, saya nggak tau kenapa. Padahal saya nggak ada tampang pencuri sama sekali.

Kemudian, saya pergi ke loker penitipan barang setelah menerima kunci nomer 52 dari penjaga perpustakaan yang cantik. Tiba-tiba Ridha sama Aina ngomong sesuatu yang nggak saya denger dengan jelas.

"Ada apa Na?" Tanya saya ke Aina

"Ridha nggak bawa KTM tuh?" jawab Aina.

Saya melihat ke Ridha, dia cuma ngangguk-ngangguk dan senyum kuda, menandakan apa yang dikatakan Aina bener. Saya tanya ke Ridha dengan sedikit panik, apa nggak apa-apa, nggak ada KTM, nanti nggak bisa masuk lagi. Ridha cuma jawab santai "Udah tenang aja, bisa kok".

"Oke" Pikir saya. Kalo nggak bisa resiko tanggung sendiri. Saya memasukkan semua barang ke dalam loker dan menutupnya. Kemudian kami bertiga jalan menuju pintu masuk Perpustakaan.

Pintu masuknya bukan pintu biasa tinggal dorong terus masuk, tapi udah canggih gitu, harus scan barcode yang ada di KTM biar bisa masuk. yang duluan masuk itu saya, kemudian Aina. Ridha? Ridha sukses masuk ke dalam tanpa harus scan KTM, caranya dia adalah, dia ngikutin Aina dari belakang. Ajaibnya, penjaga perpus nggak ada yang negur dia sama sekali. HEBAT.

"Aku harus berguru sama Ridha kalo gini caranya" Pikir saya.

Sampai di lantai 3, kami langsung mencari tempat duduk yang kosong, setelah mencari, tempat duduk yang kosong ada di antara rak buku Ekonomi dan Psikologi. Nggak masalah, yang penting nggak di antara bayangan mantan.

Dengan perlahan saya mengambil laptop, buku, pulpen dari tas, pas semuanya udah dikeluarin, ada yang kelupaan, mouse! mouse!. Saya lupa bawa mouse, kalo nggak ada mouse laptop saya nggak bisa ngapa-ngapain, touchpadnya nggak berfungsi. HUH.

Mau ngerjain tugas aja, banyak apesnya.

Kami bertiga mikir keras, Ridha mikir sambil megang jidatnya, Aina mikir sambil mikir. Sedangkan saya, saya mikir dengan cara jedot-jedotin kepala ke meja, saking sebelnya. Pelan-pelan aja sih biar nggak bocor. Saya sempat mikir buat balik lagi ke kost buat ngambil mouse, tapi nggak ada yang setuju, karena kalo balik, pasti bakalan lama, takutnya nanti kemaleman.

Akhirnya, Aina yang mikir sambil mikir pun dapet ide, dia mau minjem mouse yang ada di ruang UKM fotografi, tempat dia jadi anggota. Masalahnya terselasikan, kami terselamatkan lagi.

Sambil menunggu Aina balik, saya sama Ridha mendiskusikan beberapa point tugas tersebut. Sampai Aina kembali keadaan aman-aman aja, nggak ada masalah sama sekali, tapi di detik-detik terakhir tugas akan selesai, sesuatu terjadi. KUNCI LOKER SAYA HILANG.

saya sempat nyari-nyari ke rak-rak buku yang saya liat, nggak ada, begitupun tas laptop yang saya bawa, di sana juga nggak ada. Oh God, why always aphes?

Dalam keadaan panik, takut dibegal penjaga perpustakaan, saya mengambil kunci loker Aina yang ada di atas meja. Saya membaca gantungan kunci yang ada di kunci tersebut. Saya tau pasti ada peraturan yang ditulis disana.

Tertulis dengan jelas di gantungan kunci itu,

"Peminjaman kunci hanya untuk satu hari, jika lebih maka akan didenda 10 ribu"
"Jika kunci hilang, akan didenda 25 ribu"

Melihat peraturannyaa saya langsung lari ke kamar mandi, cuci muka biar nggak ketauan nangis gara-gara nggak sanggup bayar denda. Memikirkan 25 di akhir bulan membuat saya stres. Tugas yang tinggal dikit lagi selesai mulai terbengkalai.

"Udah Rid, kamu aja yang ngerjain ini, aku mau cari kunci dulu" Pinta saya ke Ridha. tanpa basa-basi Ridha mengerjakan sisa tugas tersebut. Kalo Ridha ngomel-ngomel waktu itu, mungkin sekarang perpustakaan hanya tinggal nama.

"Coba cari ke Loker deh" sambut Aina cepat. Tanpa pikir panjang, saya langsung turun ke lantai satu untuk melihat kunci.. Pas nyampe disana, saya mencoba membuka loker nomer 52, loker tempat saya menaruh barang-barang tadi. Nggak bisa kebuka, kuncinya juga nggak ada.

"HILANG" pikir saya, panik makin menjadi-jadi. Butiran keringat perlahan-lahan jatuh ke mata, pundak lutut kaki, lutut kaki. Lagi panik masih sempet aja nyanyi-nyanyi. Saya naik lagi ke atas, mau ngasih tau mereka kalo kuncinya nggak ada.

Melihat saya panik dan ngos-ngosan, mereka ngebantuin saya nyari kunci loker, tapi tetep nggak ketemu. Padahal menurut saya, saya nggak pernah  kemana-mana atau lepas kunci sebarangan.

"Nih tugasnya udah jadi, yuk balik aja, kita tanya mbak-mbak yang jaga, siapa tau ketinggalan tadi pas nutupin loker" kata Ridha menenangkan

Saya menangguk pelan. Berkat kata-kata mutiara dari Ridha saya menjadi sedikit tenang.

"Uangmu ada kan rul? cuma 25 ribu aja" kata Aina. Muka saya berubah jadi ijo, muka yang tadi udah tenang, berubah lagi jadi panik.

Saya berjalan menuju mbak-mbak cantik penjaga perpustakaan (MMCPP), dengan muka sedikit tegang saya tanya keMMCPP. "Mbak tadi liat kunci loker nomer 52 nggak?"

"52?" Tanya MMCPP sambil ngeliat saya sinis dan tangannya gerak entah kemana, MMCPP tiba-tiba ngasi saya kunci "Ini mas, makanya hati-hati ya" tapi masih tetep dengan tatapan sebel+sinis++

"YA ALLAH KUNCINYA NGGAK ILANG ALHAMDULILLAH, 25 RIBU NGGAK JADI KELUAR!" Gumam saya dalam hati, senang karena 25 ribu masih aman di kantong. Sedangkan Aina dan Ridha bukannya senang ngeliat saya senang, mereka malah ngeliat saya dengan tatapan tajam, seolah-olah matanya bilang. "BEGO LO TAI"

***

Bukan hanya itu keapesan saya, masih ada yang lain.

Sehari setelah tragedi hilangnya kunci loker padahal ketinggalan itu, saya berniat lagi buat ke perpustakaan, sekalian daftar UKM, biar dapet lebih banyak lagi, padahal, tujuan sebenarnya adalah nyari adik-adik maba.

Saya nyerahin berkas pendaftaran ke mas-mas penjaga stand UKM, saya serahin semua berkasnya, termasuk foto 4x6 yang menjadi salah satu syaratnya. Saya mengambil foto dari dalam tas yang beberapa menit lalu saya ambil dari tukang cetak. Setelah mendaftar, saya masuk ke perpustakaan lagi, niatnya buat ngadem. Tetep.

Nggak ada yang aneh pas di dalam perpustakaan, tapi pas keluar dan ngecek tas, foto saya hilang, padahal belum sempat ngambil buat di tempel di KSM (Kartu Studi Mahasiswa). Apes lagi kan. Untungnya beberapa hari setelah hilangnya foto, saya diBBM mbak Dike, salah satu anggota UKM tempat saya daftar, ngabarin kalo foto saya ada di dia.

Satu lagi, hari kamis kemarin saya ke perpustakaan lagi, emang nggak ada kerjaan, UTS cuma satu mata kuliah, itupun takehome. Daripada nggak ada kerjaan di kost, saya pergi ke perpustkaan. Pas masuk dan ngambil kunci loker, ternyata saya dapet loker nomer 40, lokernya itu ada di bagian atas nggak nyampe sama tinggi badan saya yang cuma setinggi pohon cabe yang baru ditanam. Buat nyampe aja saya harus jinjit-jinjit plus naik bangku dulu.

Pokoknya kalo saya dapet loker yang di atas bawaannya pengen ngancurin perpus aja. Bikin bete. Tapi semoga kunjungan-kunjungan saya selanjutnya nggak apes lagi, mungkin keapesan kemarin gara-gara saya jarang ke perpustakaan dan menghukum saya dengan cara itu.

Saya berjalan menuju kamar mandi untuk memuaskan hasrat. Hasrat ingin membersihkan diri. Saya mengambil tempat peralatan mandi  di tempat biasa saya letakkan, saya merasa ada yang janggal dengan tempat peralatan mandi yang agak sedikit ringan dari bisanya. Saya mengecek isinya, pasta gigi, sikat gigi, catokan, roll rambut semuanya lengkap, tapi satu yang nggak dalam kondisi siap pakai, yaitu sabun. Sabun cair yang biasa saya pakai ternyata udah habis. Medapati kondisi tersebut, saya hanya senyum dengan penuh kesombongan.



Saya galau. Bukan karena cewek atau uang jajan yang mulai menipis, tapi ini karena sosmed, ini gara-gara Facebook. Dasar kau Facebook!



“Nanti kalo udah pulang dari rumahnya Budi, ajak aja Bagus nginep di rumah” kata ibu saya, sambil terus ngobrol sama temennya. 

“Iya” kata saya, “kalo Bagus mau nginep, besok kan dia KSP” kata hati saya berbeda.

***

12 Agustus kemarin, salah satu teman SMA saya pulang dari Jakarta, namanya Budi, diantara temen-temen SMA yang satu genk, cuma dia aja yang udah dapet kerja, Budi kerja di Pertamina di Balongan, Indramayu (Kalo nggak salah), sedangkan saya dan temen-temen genk yang lain masih, berusaha. Berusaha  buat lulus kuliah.






Ojek itu nggak harus pake jaket kulit, nggak harus pake helm warna kuning atau hijau sebagai tanda persatuan dari pangkalan ojek mana, ojek juga bisa kayak saya, ojek tampan. Saya pake helm bogo volcadot, hitam ungu, lebih mirip bencong daripada ojek profesional. Saya make baju hem kotak-kotak, lebih mirip anak kuliahan dari pada gojek. Saya pake bawahan jogger dan sepatu skate. Bukannya mirip ojek malah mirip artis salah gaul.

Hari ini adalah hari yang bersejarah bagi dedek-dedek yang masuk SMP dan SMA karena hari ini mereka sudah mulai MOS. Tapi, bagi saya hari ini adalah hari yang entah hari keberapa bagi saya untuk menghabiskan hari libur di depan laptop yang tersambung dengan kabel HDMI sehingga bisa jadi monitor besar.


Saya mengambil hape yang dari setelah sahur saya letakkan disamping bantal , ternyata sudah pukul 12.00 Wita. Hanya lewat hape saya bisa ngeliat jam berapa, karena jam dinding di kamar saya, batrenya habis. Sebelum keluar kamar untuk memulai aktifitas yang lain, saya ngulet-ngulet dulu biar badan enakan dikit, tapi karena masih ngantuk, saya tidur lagi sampe magrib. Bangun tidur bukannya langsung rapiin tempat tidur saya malah duduk sambil ngeliatin pintu kamar dan tiba-tiba saya ingat sesuatu sebelum pulang ke rumah.
Hasil foto saya terpilih jadi cover buku "PASAR"
Yeah, akhirnya setelah nunggu selama satu semester, bukunya jadi juga. Maaf sedikit lebay gaes, seneng banget bisa dapet nilai A kayaknya hehe. Iya soalnya kata dosen saya, siapa aja yang fotonya masuk buku, nilainya InshaAllah dapet A




Sinetron terbaru di televisi kita apa sih ? perasaan nggak ada deh ya ?
Yang lagi banyak sekarang itu kompetisi-kompetisi seperti nyanyi, dance dan lain-lain. Contohnya RCTI dengan X Factornya, SCTV dengan  Dance Iconnya, Indosiar dengan D’ Academynya, MNC dengan KDI nya, ANTV dengan kompetisi nggak jelasnya, Yak ANTV sekarang udah bukan jadi tivi Indonesia, melainkan udah jadi tivinya orang India. Skip. Terakhir, SUCI 5 yaitu Stand Up Comedy di Kompas TV.